Siaga Bencana sebagai Upaya Meningkatkan Kewaspadaan
Siaga Bencana sebagai Upaya Meningkatkan Kewaspadaan
9 Jan 2018

7.12.17 “Teng...teng...teng..teng”, di sekolah terdengar suara lonceng  yang dipukul berulang-ulang tanda terjadi gempa bumi disusul suara jeritan, takbir, dan teriakan minta tolong yang memilukan. Para siswa bersembunyi di bawah meja kelas, guru berdiri di pojok ruang kelas, karyawan bersembunyi di bawah meja kantor. Semua melindungi kepala dengan tas atau apa saja yang dapat melindungi kepala dari runtuhan. Tindakan ini dilakukan sampai terdengar suara lonceng dengan interval lebih jarang barulah semua warga sekolah bergegas menuju halaman  sekolah. Ada yang menyerukan takbir, berteriak ketakutan, ada pula yang menangis.

Tim evakuasi menyebar ke seluruh penjuru sekolah untuk mencari korban. Kepala sekolah segera menelpon Puskesmas unuk meminta bantuan mobil ambulan guna menyelamatkan korban yang cidera serius. Koramil dan Polsek turut dihubungi pula untuk membantu menyisir sekolah, mencari anak yang belum ditemukan. Tim evakuasi berhasil menemukan korban siswa, ada yang patah kaki, ada yang patah tangan, ada yang luka-luka, dan ada yang trauma. Di tempat lain juga ditemukan tiga orang siswa yang dikabarkan hilang. Di saat yang sama wali kelas mendata kondisi siswa dan kelengkapan jumlahnya, kemudian melaporkan pada tim pendata. Tim pendata merekap seluruh warga sekolah ke dalam sebuah papan yang diletakkan di tepi halaman.  Tim evakuasi  melaporkan korban yang berhasil dievakuasi baik yang terluka, trauma maupun yang hilang kepada tim pendata. Dari situlah dapat diketahui warga sekolah yang selamat dan yang menjadi korban.

“Dor..dor...”,  kembali terdengar suara letusan. Satpam segera lari mencari sumber suara. Ternyata suara tabung gas yang meledak akibat kompor yang sedang digunakan untuk memasak jatuh pada saat terjadi gempa bumi. Dengan sigap, para satpam mengambil APAR yang ada di setiap sudut ruang dan menyemprotkan ke sumber  kebakaran.

Satu dari tiga anak yang hilang di atas ditemukan terkunci dalam kamar mandi sebelah 9E dan anak ini mengalami trauma. Satu anak berikutnya ditemukan di perpustaakaan dengan kondisi luka ringan dan satu lagi ditemukan dalam kamar mandi sebelah ruang piala dengan kondisi luka di kepala dan mengalami trauma.

Inilah simulasi antisipasi bencana gempa bumi yang dilakukan warga SMP Negeri 7 Yogyakarta dalam rangka lomba sekolah siaga bencana yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Tim Tagana. Aspek penilaian meliputi beberapa tahapan yang terdiri dari pra evakuasi , proses evakuasi , sarana dan prasarana , desain dan penataan kelas, pengetahuan, sikap dan tindakan, kebijakan sekolah, perencanaan kesiapsiagaan, dan mobilisasi sumber daya.

Beruntung, pada saat pengumuman SMP Negeri 7 Yogyakarta keluar sebagai Juara II total perolehan skor 723. Dengan kemenangan tersebut SMP Negeri 7 Yogyakarata berhak mendapatkan tropi,  sertifikat kejuaraan, dan uang pembinaan.(fps)

Terkait
JUARA CATUR PORGUKAR
24 Okt 2016
22.10.16 – Pekan Olahraga Guru dan Karyawan (PORGUKAR) diselenggarakan dua hari, Sabtu – Minggu, 22 – 23 Oktober 2016. Cabang olahraga yang dipertandingkan meliputi cabor volley putra dan putri, tenis…
Booming Adiwiyata Setelah Memperoleh Gelar Kejuaraan Tingkat Kota Yogyakarta
8 Apr 2015
Selepas mengikuti lomba sekolah sehat, dan berhasil mendapatkan Juara 3 tingkat Kota Yogyakarta, SMP N 7 Yogyakarta mengikuti sebuah lomba yang menjadi Progam dari Badan Lingkungan Hidup Kota Yoyakarta bekerja…
Login
Username
Password
Polling
Menurut Anda, bagaimana konten website ini?
Hasil Polling
Menurut Anda, bagaimana konten website ini?
Kurang
193
Cukup
62
Baik
152
Sangat Baik
361
Hubungi kami
Nama
Email
Pesan
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com