Selamat Datang di website resmi SMPN 7 YOGYAKARTA
Langit Biru
Langit Biru
25 Sep 2019

“Lif, bangun! Sudah siang,” teriakan Ibu sudah biasa menjadi alarm bangun pagiku. Ibu memang selalu menambahkan embel-embel ‘sudah siang’ agar aku cepat bangun. Rutinitas bangun tidurku berjalan seperti biasanya, yang berbeda hari ini adalah ke mana aku akan berangkat. Orang tuaku memang sering berpindah domisili karena alasan pekerjaan, itu juga membuatku harus pindah sekolah setiap semesternya.

Aku bahkan pernah berjanji pada diriku untuk nggak membuat hubungan pertemanan di setiap sekolah yang aku singgahi. Toh, nantinya wajah-wajah itu akan berganti setiap semesternya. Aku pikir, sebaiknya aku nggak punya teman sampai aku pindah sekolah lagi. Karena menurutku yang pergi hanyalah pergi, yang sulit adalah yang ditinggalkan. Karena kemungkinan aku akan pergi, jadi aku memutuskan untuk tidak membuat orang lain merasakan kepergianku.

Aku memasuki kelas yang aku yakini adalah kelas baruku sambil berjalan merunduk dengan ransel yang aku kaitkan di sebelah tangan. Aku nggak tahu di sekolah ini mereka belajar dengan buku apa dan sampai materi mana. Aku hanya modal nekad di hari pertama.

Dari semua sekolah yang pernah aku singgahi, anak-anak di sekolah ini paling “nggak banget”. Mereka berisik, kalau tertawa tidak tahu tempat dan yang paling aku tidak suka adalah mereka terlalu ramah. Mereka menyambutku dengan penuh sumringah. Termasuk anak yang itu, tukang teriak dan hobi hapus papan tulis.

“Eh gue Kiki, yang ini Rendy. Ke kantin yuk.”

Aku menyuguhkan telapak tangan sebagai penolakan, sama sekali tanpa senyum yang harusnya aku berikan sebagai pengganti senyum Kiki yang melebar sampai kuping. Aku masih nggak keluar kelas sampai mereka pergi, karena aku kira seterusnya akan begitu. Ternyata aku keliru.

Hari-hari selanjutnya, aku tahu kalau Kiki tinggal bersama beberapa orang yang lebih tua di sebuah rumah dua lantai setelah mereka memaksaku untuk gabung dalam kelompok kesenian yang aku yakin nggak akan selesai dalam sehari. Di ruang tamu ini, aku mengamati setiap orang yang lalu lalang dari kamar, lewat ruang tengah, lari-larian di dapur. Semuanya, sampai aku pikir kok Kiki nggak takut kalau nanti orang-orang itu bakal pergi juga akhirnya.

Waktu aku mulai ngantuk karena menunggu Kiki dan Rendy yang nggak tau di mana, aku melihat ke sudut lemari yang memantul karena kacanya terkena cahaya matahari siang itu. Ada pigura di situ, dengan berbagai foto mereka yang sebagian sudah pudar. Di bagian paling bawah ada Kiki, Rendy, dan seorang anak yang mungkin belum mereka kenalkan padaku.

“Itu dulu temennya Kiki yang paling normal.” kata Rendy yang baru muncul dari salah satu kamar di rumah itu.

Hari ini kita berencana pergi ke pesisir terdekat untuk mencari kerang buat hiasan dinding. Aku mengiyakan saja. Aku pikir, sekali-kali ikut begini nggak akan meninggalankan kesan apapun waktu nanti aku pindah sekolah lagi. Walau sebenarnya sudah sedikit mengingkari janjiku untuk nggak membuat hubungan pertemanan.

“Tadi lo ngomongin Malik ya?” tanya Kiki yang tiba-tiba datang bersamaan dengan deburan ombak di pesisir sore itu.

“Malik siapa?” tanyaku bingung.

“Malik. Anak yang dibalik pigura,” kata Rendi

“Rendy emang suka gitu, padahal itu temennya juga,” kata Kiki sambil tertawa pahit di balik wajahnya yang diterpa golden hour.

“Lagian kalau temenan itu harus ada yang normal satu,” jawabku sok bijak.

Setelah itu aku tahu, bukannya Kiki nggak takut sama kepergian, dia cuma nggak ingin menjalani sisa kepergian itu dengan sesuatu yang makin menyedihkan. Kiki bilang, ada alasan kenapa Kiki mengajakku ke kantin di hari pertamaku sebagai anak baru. Karena dia ingin.

Dia nggak mau menyesal dua kali setelah dulu dia pernah mengurungkan niatnya pada seorang teman yang seperti langit. Seorang teman yang hidupnya membiru, seperti malam di saat ia menghembuskan nafas terakhir.

“Malik dipukulin bapak tirinya, padahal sorenya dia telepon minta tolong. Gue kira dia bercanda,” kata Kiki sambil memandang golden hour yang tersisa di antara cipratan-cipratan deru ombak.

Nanti kalau waktunya sudah tiba, waktu aku harus pindah sekolah dan nggak ketemu mereka lagi, aku janji untuk mengajak mereka foto bersama. Setelah foto pertama yang kita ambil di pesisir pantai, aku ingin mereka meletakkan foto itu di pigura baru dalam lemari kaca di rumah itu.

Aku nggak seperti langit. Aku hanya orang lewat dalam waktu yang singkat bersama ketiga teman ini. Walau aku nggak pernah mengenal langsung siapa Maliki Luthfi, anak yang dibalik pigura. Aku mengenalnya lewat golden hour di pesisir pantai sore itu waktu aku mengerti kenapa kita nggak bisa, nggak boleh melewati kepergian sesorang dengan bekas yang menyedihkan.

Oleh : Dewi Lintang Sore 9C/9/2019

Terkait
Cathy
14 Okt 2019
David sedang asyik mendengarkan amanat dari Bapak kepala sekolah sebelum melaksanakan study tour ke Bali. Rasanya David sudah tidak sabar lagi untuk segera berangkat ke Bali tak lain dan tak…
Pengagum Rahasia
2 Sep 2019
Entah mengapa semua terasa berbeda semenjak aku mengenalnya. Tatapannya membuat aku penasaran. Dia yang telah merubah hidupku. Yang awalnya aku hanya seorang gadis pendiam, kini aku menjadi seorang gadis yang…
Kania
21 Sep 2022
Di suatu sekolah, terdapat siswa yang bernama Kania. Kania dikenal sebagai siswa yang teladan, redah hati, dermawan, dan juga pintar. Kania adalah siswa yang duduk di bangku kelas 8 SMP.…
MONSTER PERMEN YANG SANGAT MANIS!
17 Mar 2022
Kino sedang bermain di taman bermain seperti biasa. Ditemani lagu yang terdengar sangat manis, didukung dengan liriknya yang berarti "kehidupan manis". Sungguh, lagu tersebut sangatlah manis, semanis seekor monster yang…
Saye dan Para Penyihir
20 Jul 2022
Di sebuah planet bernama Thuveris, tinggalah dua bangsa yang hidup di sana. Mereka adalah Bangsa Elf dan Bangsa Penyihir. Pada awalnya kedua bangsa tersebut hidup dengan aman dan damai. Mereka…
Senja dilangit Biru
16 Sep 2019
Angin berhembus menerpa wajah gadis yang sedari tadi duduk di tepi sungai itu. Menatap kosong kearah depan. Mengabaikan orang orang yang berlalu Lalang. Mengaibaikan rintikan hujan yang mulai turun membasahi…
Guruku
4 Jul 2023
Karya: Ardian Hasani Rahman   Guru, kau adalah pahlawanku, pahlawan tanpa tanda jasa Guru, kau sangat tulus dan sabar dalam mendidikku Terkadang, diriku selalu membuatmu kesal, walaupun diriku sering membuatmu…
Sihir
1 Mar 2020
Di sebuah desa yang damai, hiduplah dua saudara kembar yang memiliki kekuatan sihir. Mereka sering disebut masyarakat desa dengan sebutan Wizard. Nama mereka adalah Cassandra dan Issabilla. Walupun mereka kembar,…
ALONE
1 Apr 2022
          Tierra adalah anak yatim-piatu. Ia hidup di panti asuhan yang sudah membesarkan dirinya sejak umur enam tahun. Ia sudah menganggap panti asuhan tersebut sebagai rumahnya…
Bidadari Tribun
18 Sep 2019
Gollll....!! sorak dari seluruh suporter di dalam Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Dum ... dum ... dum ... dum ... dum ... PSIM suara nyanyian para suporter PSIM. Semua bergembira ria…
Media Sosial
Karya Siswa
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com