Selamat Datang di website resmi SMPN 7 YOGYAKARTA
Selalu Ada Alasan untuk Tetap Bersyukur
14 Des 2022

Sudah menjadi kegiatan rutin setiap tiga bulan sekali, orangtuaku dan rombongannya melakukan anjangsana ke sebuah panti. Entah panti jompo atau panti asuhan. Siang ini, untuk pertama kalinya aku akan ikut orangtuaku dalam kegiatan anjangsana tersebut. Kali ini panti yang akan dikunjungi adalah sebuah panti asuhan yang berada di Ganjuran, Bantul, Yogyakarta.

Sesampainya di panti asuhan yang dituju, rombongan kami disambut oleh pengurus panti asuhan tersebut. Setelah berbincang-bincang, pengurus panti asuhan mengajak kami ke aula untuk bertemu dengan anak-anak penghuni panti asuhan dan melaksanakan kegiatan yang sudah dipersiapkan oleh rombongan kami.

Sambil menunggu persiapan acara tersebut, aku dan beberapa temanku berjalan-jalan mengelilingi kompleks panti asuhan tersebut. Sungguh kagum aku dengan keadaan lingkungan panti asuhan tersebut. Lingkungannya benar-benar nyaman. Kebersihan dan kerapiannya sangat diperhatikan. Dari setiap ruangan hingga taman dan kebun benar-benar bersih, rapi, sejuk, dan asri.

Dengan rasa masih terkagum-kagum akan penataan lingkungan tersebut, mataku tertuju pada sosok anak kecil sekitar 6 tahunan. Dia sedang membersihkan kolam ikan yang ada di belakang. Dia menoleh dan menyapa kami dengan ramah.

“Hai, Kak! Selamat Siang… Selamat datang, Kakak!” sapanya dengan ramah tanpa menghentikan pekerjaannya.

“Hai, Dik! Selamat siang juga,” jawab kami serempak.

“Kok masih di sini, Dik? Kamu nggak bergabung dengan teman-temanmu di aula untuk mengikuti kegiatan hari ini?” tanyaku.

“Sebentar lagi, Kak. Aku selesaikan tugasku dulu. Ini sudah hampir selesai,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Selang beberapa menit kemudian, tampak pekerjaan anak kecil itu sudah selesai. Dia membersihkan kedua tangan dan kakinya, kemudian menghampiri kami yang sedang duduk di taman belakang dekat kolam ikan.

“Kenalkan, Kak. Aku Niko,” katanya sambil duduk di bangku depan kami.

“Hai, Niko,” jawab kami hampir serentak.

“Kenapa nggak langsung masuk ke aula, Niko?” tanya temanku.

“Bentar lagi, Kak, aku masih agak gerah,” katanya.

Aku memperhatikan wajah Niko dengan saksama. Terlihat wajah yang sangat polos dan bersahabat. Terbersit dalam benakku. Anak sekecil ini mengapa harus tinggal di panti asuhan. Seharusnya dia masih merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan orang tuanya. Mengapa dia bisa sampai di tempat ini. Apakah dia mengenal orang tuanya? Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku. Aku tidak tega menanyakan semua pertanyaan yang muncul di benakku.

“Niko, umur kamu berapa?” tanyaku. Hanya pertanyaan itu yang mampu aku tanyakan kepadanya.

“Kata ibu panti di sini, umurku enam hampir tujuh tahun, Kak,” jawabnya dengan senyum yang selalu mengembang.

“O, sudah besar ya,” kataku sambil menepuk bahunya. “Udah punya cita-cita dong?” lanjutku. “Cita-citamu besok gedhe mau jadi apa, hayo?“ sambil kuusap rambutnya.

“Aku pingin jadi orang pinter, biar bisa cepat dapet kerja!” jawabnya lantang.

Aku heran dengan jawaban anak sekecil itu yang sudah mikir kerja.

“Iya, kalau udah pinter terus mau kerja jadi apa?” tanya temanku memperjelas.

“Kerja apa saja, pokoknya aku harus dapet duit banyak, biar bisa jemput ayahku di Surabaya,” katanya dengan semangat.

Belum selesai pertanyaan-pertanyaanku yang ada di benakku dijawab oleh Niko, tiba-tiba ibu panti asuhan itu mendekati kami.

“Niko, segera bergabung di aula. Teman-temanmu sudah menunggu dan acara segera akan dimulai,” kata ibu panti dengan lembut.

“Baik, Ibu,” kata Niko. “Kak, aku ke aula dulu yaaa,” lanjut Niko sambil berlari kecil menuju aula.

“Dia anak yang paling ceria dan paling rajin di panti ini,” kata ibu panti. “Dia ditemukan 3 tahun yang lalu oleh salah satu teman saya yang bertugas di Surabaya. Saat ditemukan, dia ada di samping ayahnya yang tergeletak dan terbujur kaku di emperan sebuah toko. Dia sedang menangis kebingungan karena orang-orang mengerumuni dia dan ayahnya. Menurut orang-orang yang ada di sekitar sana, Niko dan ayahnya termasuk gelandangan di daerah itu. Akhirnya Niko dibawa teman saya ke Kota Yogyakarta dan diserahkan di panti asuhan ini,” kenang ibu panti.

“Setiap kali Niko menanyakan ayahnya, kami selalu mengatakan ayahnya sedang bekerja mengumpulkan uang di Surabaya untuk menjemputnya. Kami juga mengatakan bahwa ayahnya berpesan agar Niko jadi anak yang baik dan pintar agar bisa lebih dulu menjemput ayahnya,” lanjut ibu panti.

Pantas ketika kutanya apa cita-citanya, Niko menjawab pingin jadi orang pinter agar bisa cepat kerja untuk mencari uang. Rasa haru kian bertambah mendengar cerita dari ibu panti tentang keseharian si kecil Niko yang rajin, ramah, dan periang ini. Dia belum mengetahui kisah sebenarnya karena dianggap masih terlalu kecil untuk mengerti cerita sesungguhnya. Setelah bercerita tentang kisah Niko, kemudian ibu panti mengajak kami bergabung di aula untuk mengikuti acara di sana.

Acara di panti asuhan siang ini cukup meriah dan menyenangkan. Kami melihat anak-anak di sana begitu terhibur dan bersemangat mengikuti acara demi acara yang telah kami susun. Tiba-tiba terdengar tepukan tangan yang sangat meriah diberikan kepada Niko ketika dia selesai menyanyikan sebuah lagu yang syair dan alunan suaranya sangat menyentuh hati. Benar-benar mengharukan. Ternyata si kecil Niko selain rajin, ramah, dan periang, dia juga bersuara emas.

Menjelang sore aku dan rombonganku berpamitan. Semua anak di panti melepas kepergian kami dengan doa dan rasa yang penuh haru. Hari ini menjadi hari yang benar-benar sangat spesial bagiku. Hari ini aku belajar banyak hal dari anak-anak panti asuhan. Belajar bagaimana berbagi, belajar menjaga kebersamaan, dan belajar saling menghibur dan menguatkan. Dari sosok si kecil Niko, aku mendapat pelajaran tentang sikap rendah hati dan semangat yang kuat untuk meraih impian. Dan satu pelajaran yang sangat berharga adalah selalu mengucap syukur dalam segala hal. Aku sadar, aku benar-benar beruntung masih mempunyai orang tua yang penuh kasih sayang. Orang tua yang selalu ada buat aku di setiap waktu. Yaaa, memang… Selalu ada alasan untuk tetap bersyukur.

******

Karya: Galang Sinarindra

Terkait
Totebag Painting, melestarikan kebudayaan melalui produk kreatif (1)
28 Mar 2022
Karya Radithya Dwindra Pramudya (VII A) sangat kental akan maskulinitas, baik dari bentuk ataupun warna-warna yang digunakan. Keseluruhan visual yang diciptakan dengan teknik yang amat baik tersebut menggambarkan ketangguhan, kesungguhan…
Guruku
4 Jul 2023
Karya: Ardian Hasani Rahman   Guru, kau adalah pahlawanku, pahlawan tanpa tanda jasa Guru, kau sangat tulus dan sabar dalam mendidikku Terkadang, diriku selalu membuatmu kesal, walaupun diriku sering membuatmu…
Rahasia
7 Des 2019
“Tap-tap” Langka kaki dari dua orang anak yanng bernama Imelda dan Adelia memasuki kelas. Kebetulan saat itu kelas masih sepi dan sunyi. Imelda dan Adelia melihat laptop di atas meja…
Tolong Menolong
26 Okt 2022
Pada suatu hari, hiduplah Kerbau di sebuah hutan. Saat pagi hari, Kerbau ke luar untuk mencari makan. Di jalan Kerbau bertemu dengan Monyet. “Hai, Monyet! Kamu mau ke mana?” tanya…
Singa Dan Tikus
26 Agu 2019
Pada suatu hari ada seekor tikus yang sedang mencari makan di hutan. Ketika tikus itu sedang mencari makanan, ia melihat seekor kupu² terbang dengan sangat cantik. Ia pun mengejar kupu²…
Bidadari Tribun
18 Sep 2019
Gollll....!! sorak dari seluruh suporter di dalam Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Dum ... dum ... dum ... dum ... dum ... PSIM suara nyanyian para suporter PSIM. Semua bergembira ria…
Itik, Ayam dan Merpati
3 Mar 2020
Pada hari Minggu, Rani dan keluarganya tengah berkumpul di ruang tamu. Ayah dan bundanya menonton televisi sedangkan Rani tengah mengerjakan tugas sekolahnya. Lalu Rani bertanya pada ayahnya.     "Ayah, apakah…
Penyesalan Bona
25 Jan 2023
Di sebuah rumah yang sederhana tinggalah seorang ibu dan dua anak perempuannya. Kedua anak tersebut bernama Bona dan Lula. Lula adalah adik dari si Bona, Lula merupakan seorang yang sangat…
Lelembut Kali Kontheng
18 Okt 2019
Dina Sebtu kuwi pancen wis daktunggu-tunggu. Sakdurunge, aku wis kangsenan karo Kamto, kanca kenthelku, arep mancing ing kali Kontheng Sing ana ing kidul desaku, yaiku desa Sekararum. Ing kali Kontheng…
PENGUMUMAN BERLANJUT PERPISAHAN
13 Jun 2016
Sabtu(11/06) diselenggarakan acara perpisahan dan pengumuman hasil kelulusan. Acara dimulai pukul 08.00 WIB di halaman SMP Negeri 7 Yogyakarta. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang dipimpin oleh…
Media Sosial
Karya Siswa
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com