20.05.16 - Peristiwa gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya 27 Mei 2006 tidak akan pernah bisa dilupakan. Akibat yang ditimbulkannya sungguh amat mengerikan. Entah berapa ribu nyawa melayang, berapa ribu orang terluka, dan berapa puluh ribu rumah hancur. Hingga kini trauma itu belum juga sirna. Saat ini, jika terasa ada guncangan gempa sekecil apapun, masih muncul rasa takut yang mencekam.
Datangnya bencana alam tidak dapat dihindarkan, tetapi dapat disikapi agar jatuhnya korban dapat diminimalisir. Dengan dasar itulah, SMP Negeri 7 Yogyakarta menyelenggarakan penyuluhan penanggulangan bencana untuk siswa kelas VII dan VIII. Mengapa siswa kelas VII dan VIII? Karena mereka selama kegiatan belajar mengajar menempati ruang kelas di lantai II. Jika suatu ketika ada bencana secara khusus gempa bumi, para siswa ini tahu tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri. Kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat, 20 Mei 2016 mulai pukul 07.30 di halaman sekolah. Narasumber yang hadir dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Bapak Mahujud, S.Sos., M.Si. (Kepala Seksi Kesiapsiagaan) dan Bapak Nugroho Wahyu Winarno, S.P. (Staf Kesiapsiagaan) yang lebih suka disapa Pak Wahyu.
Dalam penyuluhannya, Bapak Mahujud yang asli dari Mataram, Lombok ini menjelaskan macam-macam bencana. Menurut terjadinya, bancana ada dua macam yaitu bencana primer dan bencana sekunder. Bencana primer merupakan bencana yang pertama terjadi seperti gempa bumi. Sedangkan bencana sukunder yaitu bencana ikutan atau terjadi akibat dari bencana primer. Contohnya, gempa bumi dapat menimbulkan bencana tsunami, gunung meletus, tanah turun, kebakaran, dan sebagainya. Di sisi lain, Pak Mahujud juga menjelaskan penyebab terjadinya bencana. Bencana dapat terjadi oleh karena alam dan ulah manusia. Bencana oleh karena alam seperti gempa bumi, gunung meletus, dan angin puting beliung. Bencana akibat ulah manusia seperti pembuangan sampah sembarangan menimbulkan banjir ; eksploitasi hutan mengakibatkan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau ; rumah kaca dan penggunaan gas freon yang mengakibatkan kerusakan lapisan ozon dan menaikkan suhu bumi, dan masih banyak yang lain.
Di tengah-tengah keseriusan beliau memberi penyuluhan, Pak Mahujud juga memberi tips cara menyelamatkan diri dari gempa bumi dengan bernyanyi. Lagu yang dipilih lagu anak-anak berjudul “Dua Mata Saya” yang syairnya diubah menjadi petunjuk menyelamatkan diri. Syairnya menjadi demikian :
Bila ada gempa, lindungi kepala
Bila ada gempa, dekat kolong meja
Bila ada gempa, jauhilah kaca
Bila ada gempa, ke tempat terbuka
Lagu yang notasinya mudah dinyanyikan dan akrab di telinga anak-anak ini dinyanyikan dengan riang dan penuh semangat. Diharapkan isi syair lagu ini dapat melekat di pikiran para siswa sehingga kalau terjadi gempa secara spontan siswa dapat melakukan tindakan penyelamatan diri.
Sementara itu, Pak Wahyu yang memperoleh gelar master di negeri Belanda ini menjelaskan cara-cara menyelamatkan diri dari bermacam-macam bencana baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia. Secara khusus memberikan penyuluhan tentang pembuangan sampah dan strategi mencegah penularan wabah penyakit. Yang paling utama, Pak Wahyu mengimbau agar berusaha sedapat mungkin untuk tetap tenang ketika melakukan tindakan penyelamatan diri. (rn)