Tidak dapat dipungkiri begitu banyak tokoh-tokoh wanita atau perempuan dunia yang mampu mengubah wajah dunia dan mengukirkan namanya dalam sejarah. Sumbangan besar yang telah ditorehkan untuk perubahan kehidupan. Baik dalam bidang agama, fisolofi, adat istiadat, pendidikan dan bidang-bidang lain.
Sebut saja Sappho (c 570 SM), tokoh wanita yang hidup sebelum masehi, dia terkenal sebagai penyair hebat. Cleopatra (69 -30 SM) sebagai ratu yang hebat dan dihormati. Musisi, pengarang lagu dan composer wanita yang hebat adalah Hildegard (1098-1179). Marie Curie (1867- 19430) ilmuan wanita pertama yang dianugrahi penghargaan tertinggi di bidang ilmu pengetahuan - Nobel Prize. Namun tidak kalah pentingnya tokoh wanita Indonesia yang mampu mengangkat harkat wanita pada jamannya, dia adalah R.A. Kartini.
Hingga di jaman yang serba digital ini nama R.A. Kartni tetap harum namanya, baik itu dikalangan perempuan maupun laki-laki. Setiap tanggal 21 April seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran beliau. Begitu banyak acara yang dikemas untuk memperingatinya. Mulai dari pelosok desa terpencil dengan cara mengenakan pakaian adat berbagai suku bangsa dan lomba-lomba permainan tradisional hingga seminar-seminar yang dilaksanakan di hotel-hotel mewah.
Seringkali kita terjebak pada hingar bingar peringatan kelahiran ibu kita Kartini, namun makna yang terkandung di dalamnya terlupakan. Akhirnya peringatan itu hanya berdampak pada saat itu saja. Jika momen ini kita gunakan untuk merenung kemudian intropeksi diri, sudahkan perjuangan beliau itu kita maknakan sedalam-dalamnya dan diterapkan sebagai karakter hidup berbangsa.
R.A. Kartni lahir dan hidup di jaman yang serba keterbatasan, pada jaman itu bangsa kita masih dalam penjajahan Belanda, wanita Indonesia haknya jauh di bawah laki-laki. Pendidikan dibatasi hanya sampai sekolah dasar kemudian dipingit untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka, bahkan dengan alasan itu juga beasiswa yang diperolehnya untuk belajar di Belanda tidak dimanfaatkanya. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).
Berbagai keterbatasan tak menghalanginya untuk memperjuangkan persamaan hak dalam berbagai hal, baik dalam hal perbedaan gender maupun status sosial. Emansaipasi wanita itu merupakan istilah yang digunakan untuk persamaan hak antara wanita dan laki-laki. Tetapi ingat bahwa Ibu Kartini tidak mengajarkan emansipasi yang kebablasan, meskipun ingin disamakan haknya dengan laki-laki beliau masih “memahami” kodratnya sebagai wanita. Buktinya beliau tidak memanfaatkan beasiswanya karena ada hal yang lebih penting baginya sebagai wanita.
Jadi bukan alasan keterbatasan itu sebagai keluhan untuk mencapai yang lebih baik lagi, nasib juga bukan pilihan untuk menanti “jatuhnya bintang” dari langit. Semua itu harus diperjuangkan dan diusahakan. Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.
Sehingga peringatan hari lahir R.A. Kartini harusnya bukan sekedar dengan berpakaian adat, seminar dan lomba-lomba saja. Akhirnya kita terjebak pada euphoria belaka, namun dibalik peringatan tersebut kita maknai dengan semangat perjuangan beliau sehingga biasa melahirkan “Kartini dan Kartono” masa kini, yang mampu dan mau berjuang untuk kepentingan bangsa tanpa pamrih (PPT)