Selamat Datang di website resmi SMPN 7 YOGYAKARTA
Keterbatasan Teknologi
4 Jan 2023

Suasana pagi yang indah dengan semilir angin sepoi-sepoi yang menyejukkan hati. Dari ufuk timur,  surya kembali terbit dengan senyuman yang melekat di mulutnya. Hari ini adalah hari dimana aku akan pergi meninggalkan tempat tinggalku dan pergi ke desa terpencil. Namaku? Luna, Revaluna Putri. Aku adalah lulusan dari universitas terkemuka di Jogja. Aku memiliki tujuan membantu anak-anak di desa terpencil untuk menganyam pendidikan meskipun tempatnya terbatas.

Saat aku tiba di desa tersebut, ada bangunan tua yang sudah rapuh. Masyarakat sekitar menyebut itu sekolah, walau tampak lusuh dan tak layak digunakan tetapi anak-anak desa tersebut menuntut ilmu di bangunan tua tersebut. Mereka tetap semangat untuk mencapai cita-cita. Saat mendengar hal tersebut, aku bertekad untuk membantu anak-anak di desa ini. Malam sudah tiba, kini aku sedang beristirahat. Aku terus memikirkan akan angan-angan mereka. Saat sudah larut malam aku mulai terlalu dalam pikiran dan mulai tertidur.

Pagi sudah tiba, matahari sudah menampakkan sinarnya. Aku mulai berjalan menuju tempat itu, yap benar, “sekolah". Saat sampai aku disambut dengan tahapan penasaran murid-murid di sana.

“Ibu siapa?” tanya salah satu anak yang terus menatap ke arahku.

“Anak-anak perkenalkan ini Ibu Luna,” jawab kepala desa tersebut.

“Salam kenal, saya Ibu Luna. Saya berasal dari Jogja,” tambahku.

“Mulai hari ini Ibu Luna akan mengajar kalian,” sahut kepala desa.

“Baik, Bu!” balas mereka.

“Baiklah anak-anak, pelajaran kali ini sudah selesai, kita bertemu lagi besok ya,” aku mencoba berbincang dengan mereka.

“Siap, Buu,” tak ku sangka mereka menjawab dengan penuh semangat. Akhirnya mereka semua beranjak pergi dan meninggalkan tempat ini, disusul denganku yang juga beranjak pergi.

“Terima kasih lho Bu Luna sudah mau mengajar disini,” ucap Ibu Sari. Ya, benar, Bu Sari adalah kepala desa di sini.

“Sama-sama, Bu,” jawabku sambil tersenyum.

“Apa yang Ibu ajarkan tadi?” tanya Bu Sari penasaran.

“Oh, saya ajarkan kepada mereka matematika, Bu. Tapi sepertinya mereka masih belum bisa memahaminya,” sambungku. Bu Sari menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia mengerti.

“Baiklah Bu, saya pulang dulu,” timpalku. 

“Baiklah, hati-hati ya,” pesan Bu Sari mengakhiri obrolan kami.

 

***

 

“Selamat pagi anak-anak!” dengan wajah yang ramah, aku menyapa mereka.

 “Pagi, Bu!” jawab mereka semua dengan lantang dan penuh semangat.

“Kita bertemu lagi pada pagi hari ini, apa kalian semua paham dengan materi matematika yang ibu ajarkan semalam?” aku mencoba bertanya.

Semua hanya diam dan memandang satu sama lain. Keterbatasan teknologi dan ilmu pengetahuan yang membuat mereka tertinggal jauh dengan anak-anak yang berada di kota.  Namun apa daya, seorang guru harus berupaya untuk membuat anak didiknya penuh dengan ilmu.

Eum, baiklah, ibu tahu, akan ibu ajarkan kembali materi semalam.”

“B-bu?” tiba-tiba seorang murid bertanya.

“Iya Rahma, ada apa?” aku mencoba menjawab.

“Apa benar, ibu akan meninggalkan kami dan kembali ke Jogja?” tak ku sangka, Rahma salah satu murid terhindar di kelas.

Ah, tidak, Rahma. Ibu akan tetap mengajar kalian di sini sampai kalian sukses nanti. Ibu yakin kalian semua bisa setara dengan anak-anak kota,” jawabku. Di tengah suasana tersebut, tiba-tiba saja ponselku berdering.

“Tunggu sebentar ya anak-anak, Ibu mau menjawab telepon dulu,” Aku pergi keluar dan mengangkatnya, ternyata itu sahabatku, Azka.

“Halo, Azka?" sapaku.

“Halo Luna, kamu di mana?”

“Ah, aku sedang mengajar di sekolah sekarang.”

“Baiklah, aku akan ke sana, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu.”

“Iya, datanglah kemari, aku tunggu!” kataku sembari mengakhiri panggilan.

 

Aku lalu kembali ke kelas dan kembali mengajar. Sekarang sudah siang dan anak-anak sudah pulang.

“Halo,” sapa seseorang yang suaranya aku kenal.

“Halo, ah, kau sudah sampai. Apa yang ingin kau sampaikan?” tanyaku.

“Ini, aku ingin mengantarkan undangan ini,” jawab Azka. Aku pun mengambil dan membaca undangan tersebut. Olimpiade matematika? Iya, itu adalah selebaran olimpiade matematika.

“Aku yakin muridmu bisa mengikutinya,” jawab Azka percaya diri.

“Azka, terima kasih ya, semoga saja kami dapat memenangkan olimpiade tersebut,” aku sangat senang dan lebih bersemangat.

“Aamiin,” Azka meng-aminkan doaku.

Hari ini adalah hari saat aku dan muridku akan menuju ke tempat berlangsungnya olimpiade tersebut.

“Bu, aku tak yakin akan memenangkan olimpiade ini,” ucap Rahma tak percaya diri.

“Tidak apa-apa Rahma, yang penting kita sudah berusaha dan melakukan yang terbaik,” ucapkan memberi semangat kepada Rahma.

Olimpiade sudah selesai, aku dan Rahma kembali ke desa.

“Kapan pemenangnya akan diumumkan, Bu?” Tanya Rahma penasaran.

“Pemenangnya akan diumumkan seminggu lagi, kita tunggu saja,” aku mencoba tersenyum manis.

Tak disangka hari ini sudah tiba, pemenang olimpiade diumumkan dan tak disangka Rahma berhasil lolos dan akan mengikuti olimpiade selanjutnya. Rahma pergi untuk melanjutkan mimpinya, yaitu untuk menjadi seorang yang sukses. Kira-kira sudah hampir setahun Rahma pergi meninggalkan kami, dan aku masih tetap mengajar di sekolah ini. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke kelas, saat aku menoleh ternyata itu Rahma! Dia sudah kembali dan membawa beberapa medali dan penghargaan. Aku senang melihatnya, aku langsung memeluk Rahma dan menangis bahagia, teman-temannya juga bahagia melihat Rahma.

“Terima kasih bu, Ibu sudah mengajarkan aku banyak ilmu,” ucap Rahma

“Sssama-sama R-rahma...” ucapku tersedu-sedu. Karena Rahma, desa ini sekarang sudah mulai membaik dan banyak donatur yang mengirim bantuan kepada kami. Anak-anak pun bisa mendapat pendidikan yang layak.

“Walaupun dalam keterbatasan teknologi dan ilmu pengetahuan, jika kita berusaha sebaik mungkin, ingatlah...usaha tersebut tidak akan menghianati hasil”

                                                                            

                                                                                         -SELESAI-

Karya:

Luna Syakas Wijaya 

Terkait
Kania
21 Sep 2022
Di suatu sekolah, terdapat siswa yang bernama Kania. Kania dikenal sebagai siswa yang teladan, redah hati, dermawan, dan juga pintar. Kania adalah siswa yang duduk di bangku kelas 8 SMP.…
Itik, Ayam dan Merpati
3 Mar 2020
Pada hari Minggu, Rani dan keluarganya tengah berkumpul di ruang tamu. Ayah dan bundanya menonton televisi sedangkan Rani tengah mengerjakan tugas sekolahnya. Lalu Rani bertanya pada ayahnya.     "Ayah, apakah…
Mimpi
27 Agu 2019
     “Gue Zelvin lo?”tanya lelaki itu sambil mengulurkan tangan nya dengan senyum yang manis itu. ”KRING” bunyi jam weker membangunkan gadis yang masih nyenyaknya tertidur itu dia pun bangun sambil menggeliat,…
Singa Dan Tikus
26 Agu 2019
Pada suatu hari ada seekor tikus yang sedang mencari makan di hutan. Ketika tikus itu sedang mencari makanan, ia melihat seekor kupu² terbang dengan sangat cantik. Ia pun mengejar kupu²…
Tinta Hitamku
4 Jun 2023
Karya: Angella Cindy Wahyuningtyas   Sunyi, gersang, redup... itulah hidupku Delapan tahun sudah menimba ilmu, dengan rasa pilu Diriku hanya insan biasa, yang masih kaku dalam mencarimu Aku harus bangkit,…
Lelembut Kali Kontheng
18 Okt 2019
Dina Sebtu kuwi pancen wis daktunggu-tunggu. Sakdurunge, aku wis kangsenan karo Kamto, kanca kenthelku, arep mancing ing kali Kontheng Sing ana ing kidul desaku, yaiku desa Sekararum. Ing kali Kontheng…
KEKANCAN utawa SAHABATAN
19 Feb 2020
Nalika semana Manda nembe wae mlebu SMP. Mbiyen Manda sekolahe neng sawijining SD Negeri Gondokusuman. Nanging saiki deweke munggah SMP lan ngelanjutke ing SMPN 7 Yogyakarta. Ning SMP Manda duwe…
Gurat Biru dalam Ragam Hias (3)
8 Mei 2022
Dalam permukaan piring kayu terlihat 3 objek gubahan hewan bebek yang dibuat menonjol atau dijadikannya sebagai centre point dengan menerapkan kaidah-kaidah vignette (framing). Masih pada nuansa biru yang dominan, tercipta…
Gurat Biru dalam Ragam Hias (1)
8 Mei 2022
Karya ragam hias kali ini nampak kuat dengan menonjolkan garis-garis tebal dan penggunaan warna yang tegas nan kontras.  Yaitu karya dari Raditya Dwindra Pramudya (VII A). Ragam hias dengan motif…
Selalu Ada Alasan untuk Tetap Bersyukur
14 Des 2022
Sudah menjadi kegiatan rutin setiap tiga bulan sekali, orangtuaku dan rombongannya melakukan anjangsana ke sebuah panti. Entah panti jompo atau panti asuhan. Siang ini, untuk pertama kalinya aku akan ikut…
Media Sosial
Karya Siswa
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com