Selamat Datang di website resmi SMPN 7 YOGYAKARTA
Penyesalan Bona
25 Jan 2023

Di sebuah rumah yang sederhana tinggalah seorang ibu dan dua anak perempuannya. Kedua anak tersebut bernama Bona dan Lula. Lula adalah adik dari si Bona, Lula merupakan seorang yang sangat rajin dan suka membantu ibunya. Bona merupakan kebalikan dari adiknya, ia seorang yang sangat pemalas.

Pada suatu pagi, Bona dan Lula bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah dengan terburu-buru. Bona sangat geram dengan adiknya karena terlalu lama memakai sepatu.

“Kamu lama sekali, ini sudah mau mulai upacaranya!” teriak Bona.

“Iya, maaf, ini sudah selesai ayo kita berangkat, Kak,” jawab Lula lemas.

“Kenapa muka kamu pucat begitu?” tanya Bona.

“Tidak apa-apa kak, sudah kita berangkat saja, upacaranya mau dimulai,” jawab Lula. Mereka pun langsung berpamitan dengan ibunya dan segera berangkat ke sekolah.

Beberapa saat kemudian, bel istirahat pun berbunyi. Seluruh murid berbondong-bondong menuju ke kantin. Bona segera keluar kelas dan berjalan menuju ke kantin. Ia menemukan Lula yang sedang merenung di meja kantin.

“Lula, kenapa kamu diam saja?” tanya Bona.

“Lula mau makan, tapi ibu hari ini tidak kasih uang saku karena dagangannya kemarin belum laku,” jawab Lula.

“Suruh siapa sarapan tadi pagi tidak dihabiskan?” tanya Bona sedikit marah.

“T-tadi pagi Lula tidak ada selera makan,” jawab Lula terbata-bata.

“Ya sudah, itu salah kamu sendiri hahaha!” ejek Bona.

***

Sesampainya di rumah, Lula segera mengganti pakaiannya dan mandi. Bukannya segera mandi seperti Lula, Bona malah langsung tidur dengan seragam kotor. Ibunya datang dan menghampirinya, “Bona, kenapa tidak ganti baju dulu, Nak?” tanya Ibu.

“Aku sedang lelah, jangan ganggu aku dulu, Bu,” jawab Bona kesal. Ibunya hanya bisa bersabar melihat kelakuan anak perempuannya tersebut.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah. Ibu Bona langsung membukakan pintu, ternyata itu adalah teman Bona, temannya mengundang Bona untuk datang ke acara ulangtahunnya. Ibu Bona segera memberi tahu Bona akan undangan tersebut. Bona terlihat kegirangan setelah membaca undangan tersebut. Lula yang tak sengaja lewat di depan kamar Bona langsung berkata, “Wahhh, apakah aku boleh ikut, kumohon,” ucap Lula memelas.

“Tidak! Ini teman kakak bukan kamu,” jawab Bona ketus. Lala yang awalnya bersemangat jadi sedih karena perkataan Bona, ia langsung bergegas ke kamarnya.

“Bona, harusnya kamu jangan berkata seperti itu,” ucap Ibu.

“Memangnya kenapa sih, Bu? Biarin saja,” jawab Bona. Ibu Bona menggelengkan kepalanya lalu pergi keluar dari kamar Bona.

Malamnya, Bona sibuk mempersiapkan baju yang akan dipakai besok saat ulangtahun temannya sampai kamarnya berserakan baju-baju.

“Duh, kenapa bajuku jelek semua sih,” keluh Bona. Ibunya yang melihat baju berserakan di lantai segera mengumpulkan semua baju tersebut.

“Pelan-pelan Bona, jangan berantakan seperti ini,” ucap Ibu.

Ihh, Bu, apakah aku tidak punya baju yang bagus? Semua terlihat jelek!” ujar Bona kesal.

“Bona, yang kamu punya hanya itu, kita belum sempat beli juga baju-baju baru, jadi pakai saja ya, nak, kapan-kapan Ibu belikan yang bagus,” ucap Ibu lemah lembut.

“Ah, yasudah lah karena terpaksa, tapi benar ya, Bu, harus belikan yang bagus,” ujar Bona sambil menggerutu.

“Oh iya, Ibu ada uang tidak? Bona mau beli tempat pensil yang bagus di toko alat tulis sebelah, untuk kado temanku,” sambung Bona.

“Ibu hanya ada ini,” ujar Ibu sambil mengeluarkan uang lima puluh ribu dari sakunya. Bona pun langsung mengambil uang tersebut dari tangan Ibu.

Yey, bisa beli kado!” ujar Bona. Tak lama kemudian semuanya langsung pergi ke kamar masing-masing dan tidur.

***

Keesokan harinya, Bona dan Lula berangkat ke sekolah seperti biasa sedangkan ibunya pergi ke pasar untuk menjual dagangannya. Semua berjalan seperti biasanya. Setelah pulang sekolah Bona segera membungkus kado yang telah dibeli saat di perjalanan ke rumah tadi. Ibu yang baru sampai rumah segera mengganti pakaiannya dan mandi. Setelah mandi Ibu bergegas ke dapur untuk memasak namun ia tak sengaja melihat Bona yang masih sibuk dengan kadonya, lalu Ibu menghampirinya dan berkata,

“Bona, adakah uang kembalian dari uang kemarin?” tanya Ibu.

Lah, kan tidak ada, sisanya untuk beli snack,” jawab Bona. Ibu agak kaget mendengar respon Bona, namun ia tetap senang karena melihat anak perempuannya bahagia.

“Oh, tidak apa-apa, yang penting kamu bahagia ya, nak,” ujar Ibu sambil tersenyum.

Beberapa jam kemudian, Bona pamit kepada Ibunya dan segera pergi ke pesta ulangtahun temannya. Lula terlihat sedih karena ingin ikut ke pesta ulang tahun tersebut. Ibu yang melihat Lula langsung mengusap kepalanya dan berkata, “sudah, jangan sedih ya, La, cantiknya Ibu,” ujar ibu sambil tersenyum ke Lula.

“Uhuk..uhuk,” Ibu yang tiba-tiba batuk membuat Lula khawatir.

“Ibu tidak apa-apa kan? Ibu istirahat saja dulu ya,” ujar Lula sambil menuntun ibunya menuju ke dalam rumah.

Beberapa saat kemudian, Bona pun pulang dari pesta ulang tahun temannya tersebut.

“Aku pulangg.. Ibu, Lulaa... kalian ke manaa?!” seru Bona sambil memanggil ibu dan Lula. Bona kelelahan berteriak memanggil Ibu dan Lula namun tidak ada satupun yang menanggapinya.

Bona mengecek ke seluruh kamar, ia menemukan Lula yang sedang menangis di kamar.

“Lulaa, kenapa kamu menangis?” tanya Bona heran.

“Ini sebenarnya ada apa? kenapa rumah sepi?” sambung Bona.

“Ibu, Kak..” ujar Lula tersedu-sedu.

“Ibu kenapa? Jangan setengah-setengah kalau bicara,” ujar Bona.

“Ibu pingsan dijalan, katanya saat itu Ibu mau membelikan baju baru untuk Kakak, baru saja aku dapat kabar setelah di telefon bibi. Sekarang Ibu masih berbaring lemah dan belum sadar,” ujar Lula sambil menangis.

“Ibu dirawat di mana? Kakak mau ke sana sekarang!” ujar Bona panik.

“Sebentar kak, Lula telefon bibi lagi saja, minta dijemput kesana,” ujar Lala. Mereka pun segera menghubungi bibi dan diantarkan ke rumah sakit.

Setelah sampai di sana, Bona dan Lula bergegas berlari ke ruangan tempat Ibu di rawat. Mereka melihat Ibu yang sedang masih berbaring lemas dan terlihat pucat. Bona tak kuat menahan tangis hingga membasahi selimut Ibu.

“Bu, bangun Bu, Bona tau Ibu kuat,” ucap Bona sambil menangis.

“Iya Bu, Lula masih butuh Ibu. Kak Bona sama Lula sayang sekali sama Ibu,” sambung Lula.

“Maaf Bu, karena Bona Ibu jadi begini, andai Bona tidak minta dibelikan baju saat itu,” ujar Bona menyesal. Mereka menemani Ibunya hingga larut malam dan bibinya pun mengatakan agar mereka segera pulang karena sudah sangat malam. Bona dan Lula pulang ke rumah dengan air mata yang masih mengalir.

Sesampainya di rumah, mereka berdua segera mengganti pakaian lalu tidur. Bona melihat adiknya masih menangis di meja belajarnya.

“Lula, sudah ya, jangan menangis terus, kita berdoa saja supaya Ibu baik baik saja ya,” ucap Bona yang berusaha menenangkannya.

“Iya kak, Aaamiin,” jawab Lula.

Keesokan paginya mereka bangun lebih siang dan kebetulan sekolah sedang libur dua hari karena guru-guru ada acara penting, lalu mereka menelefon bibinya untuk menanyakan kabar Ibu. Alangkah terkejutnya mereka mendengar kabar bahwa Ibu sudah siuman, Bona dan Lula kegirangan mendengarnya.

Tiba-tiba Bona teringat sesuatu, “Lula! kamu ingat tidak, besok hari ulang tahun Ibu!” seru Bona.

Eh, iya kak, aku ada idee!” saut Lula.

“Lula ingat ada celengan yang sudah Lula tabung bertahun-tahun, uangnya kita pakai untuk menghadiahi ibu saja,” sambung Lula.

Wahh, ide bagus! Tapi kamu serius ingin merelakan uang yang selama ini kamu tabung?” tanya Bona.

“Pastii! apa yang tidak untuk Ibu tersayang,” jawab Lula.

“Waktu itu kamu tidak bawa uang saku bukan? kenapa tidak ambil dari celengan saja?” tanya Bona.

“Sengaja Lula tidak pakai, karena siapa tau uang dari celengan ini lebih penting dari itu, ternyata benar,” jawab Lula.

“Umm..maafin perkataan kakak yang kemarin itu ya Lula, pasti kakak udah nyakitin hati kamu,” ujar Bona.

“Ah, tidak apa-apa kak, yang itu udah Lula maafin, dan pasti Lula maafin,” jawab Lula.

“Okayy, bagaimana kalau kita hadiahin ibu baju dari butik sebelah? Bajunya bagus bagus di sana!” ujar Bona.

“Ide baguss, ayo segera kita ke sana!” seru Lula. Setelah membeli kado dan kue, mereka segera mempersiapkan semuanya.

Keesokannya lagi, mereka menelefon bibinya agar segera dijemput. Sesampainya di rumah sakit mereka pun mengendap-endap masuk ke ruangan tempat Ibu dirawat. Mereka melihat Ibu sedang duduk termenung diatas ranjang.

Tiba-tiba, “Tadaaa!! Happy birthday, Ibuuu!” seru Bona dan Lula kompak. Ibu yang melihat mereka datang langsung terharu dan memeluk mereka berdua. Rasa bahagia dan sedih bercampur aduk didalam diri Ibu.

“Ibu, maaf ya Bona sudah buat ibu sakit, Bona menyesal, andai Bona tidak banyak mau saat itu,” ujar Bona.

“Eh, tidak apa-apa cantikk ini ibu gara-gara kelelahan saja,” jawab Ibu.

“Pokoknya Bona minta maaf saja ya, Bu, kalau Bona ada salah,” ujar Bona.

“Iyaa, Bu, Lula juga minta maaf kalau ada salah ya,” sambung Lula.

“Iyaa cantik-cantiknya Ibuuu,” jawab ibu lemah lembut.

“Oh iya, kita ada sesuatu untuk Ibu, tadaa!” seru Lula sambil menunjukkan baju batik yang sangat indah.

“Astaga, ini indah sekali nak, beli pakai uang dari mana?” tanya Ibu keheranan.

“Pakai uang celengan Lula, Bu,” jawab Bona.

“Yaampun naakk, kalian manis sekalii,” ujar ibu dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu sayang sekali sama kalian,” ucap ibu sambil memeluk Bona dan Lula erat.

“Kita juga sayang Ibu,” jawab Bona dan Lula kompak.

“Bona berjanji bakal jadi anak yang baik,” ujar Bona.

“Lula jugaa... hehehe,” saut Lula. Akhirnya mereka hidup dengan bahagia selamanya.

 

Pesan moralnya adalah sayangilah orangtuamu, dan janganlah mengecewakannya Dan berbuat baiklah kepada saudara maupun teman.

Karya: Nabila Fitri Dewani

Terkait
Tiga Burung Kecil
8 Feb 2023
Suatu hari di tengah hutan di sebuah pohon hiduplah tiga burung kecil. Burung itu bernama Lina, Luna, dan Lino. Mereka adalah burung kecil yang ceria dan suka bermain-main. Luna adalah…
Totebag Painting, melestarikan kebudayaan melalui produk kreatif (1)
28 Mar 2022
Karya Radithya Dwindra Pramudya (VII A) sangat kental akan maskulinitas, baik dari bentuk ataupun warna-warna yang digunakan. Keseluruhan visual yang diciptakan dengan teknik yang amat baik tersebut menggambarkan ketangguhan, kesungguhan…
Tinta Hitamku
4 Jun 2023
Karya: Angella Cindy Wahyuningtyas   Sunyi, gersang, redup... itulah hidupku Delapan tahun sudah menimba ilmu, dengan rasa pilu Diriku hanya insan biasa, yang masih kaku dalam mencarimu Aku harus bangkit,…
Langit Biru
25 Sep 2019
“Lif, bangun! Sudah siang,” teriakan Ibu sudah biasa menjadi alarm bangun pagiku. Ibu memang selalu menambahkan embel-embel ‘sudah siang’ agar aku cepat bangun. Rutinitas bangun tidurku berjalan seperti biasanya, yang…
SALAH
29 Mar 2023
Ada kalanya ketika aku ingin menyerah. Menyerah dengan keadaanku di dunia yang sangat kejam ini. Aku terlahir dalam diam. Aku lahir dari sebuah keheningan. Mungkin, saat itu ayahku dengan sia-sia…
Totebag Painting, melestarikan kebudayaan melalui produk kreatif (3)
29 Mar 2022
Mengusung tema flora dan fauna, karya Nampi Renaningtyas (VII A) menampilkan gubahan kupu-kupu dan juga bentuk-bentuk bunga serta sulur. Penggunaan warna ungu yang dominan kemudian dipadupadankan dengan warna kuning akan menimbulkan getaran…
Gurat Biru dalam Ragam Hias (3)
8 Mei 2022
Dalam permukaan piring kayu terlihat 3 objek gubahan hewan bebek yang dibuat menonjol atau dijadikannya sebagai centre point dengan menerapkan kaidah-kaidah vignette (framing). Masih pada nuansa biru yang dominan, tercipta…
Bidadari Tribun
18 Sep 2019
Gollll....!! sorak dari seluruh suporter di dalam Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Dum ... dum ... dum ... dum ... dum ... PSIM suara nyanyian para suporter PSIM. Semua bergembira ria…
Batu, Kerikil, Dan Pasir
17 Feb 2020
Malam itu aku ada les. Aku terlambat. Les sudah dimulai saat aku sampai. Aku segera duduk lalu mengeluarkan mapp dan alat tulisku. Pandanganku terarah pada teman lesku, Rasyid namanya. Biasanya…
Cathy
14 Okt 2019
David sedang asyik mendengarkan amanat dari Bapak kepala sekolah sebelum melaksanakan study tour ke Bali. Rasanya David sudah tidak sabar lagi untuk segera berangkat ke Bali tak lain dan tak…
Media Sosial
Karya Siswa
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com