Selamat Datang di website resmi SMPN 7 YOGYAKARTA
Batu, Kerikil, Dan Pasir
Batu, Kerikil, Dan Pasir
17 Feb 2020

Malam itu aku ada les. Aku terlambat. Les sudah dimulai saat aku sampai. Aku segera duduk lalu mengeluarkan mapp dan alat tulisku. Pandanganku terarah pada teman lesku, Rasyid namanya. Biasanya dia terlihat happy, tapi kali ini dia terlihat murung seperti sedang ada masalah.

“Oke anak-anak, sebentar lagi kalian akan bertemu dengan TPM lalu TPM lalu TPM lagi lalu Un”, kata Pak Pri guru lesku. Aku dan teman-temanku hanya terdiam memandangi soal.

“Mas Rasyid... mas Rasyid!” panggil Pak Pri.

Rasyid tak bereaksi.

“Sepertinya dia sedang melamun,”gumamku dalam hati.

Lalu Aku mendorong kaki kursi tempat duduknya.

“Hei... kamu kenapa, dipanggil dari tadi jugak..,” ucapku sambil menatapnya.

“Ga papa,” jawabnya tergagap terus  tersenyum.

                Tidak mendapat reaksi jawaban dari Rasyid, Pak Pri terlihat biasa saja, tidak menunjukkan raut marah. Pak Pri lalu berdiri dan pergi ke dalam. Selang beberapa menit, Pak Pri kembali dengan membawa 3 buah toples, dan tiga kantong plastik transparan yang masing-masing berisi batu, kerikil, dan pasir.

“Anak-anak, coba perhatikan ke sini!” seru Pak Pri.

Kami pun terdiam tidak tahu apa yang akan dilakukan Pak Pri dengan barang-barang yang dibawanya. Pak Pri lalu meletakkan 3 toples di atas meja.

“Anak-anak, saya akan mengisi toples yang pertama ini dengan batu,” kata Pak Pri sambil menyobek kantong plastik yang berisi batu lalu memasukkan batu-batu tadi ke dalam toples.

 “Anak-anak, apakah sudah penuh?” tanya Pak Pri

“Sudah...,” jawab kami kompak

Lalu Pak Pri menggambil toples yang kedua. Disobeknya kantong plastik yang berisi kerikil lalu dituangkan ke dalam toples.

“Anak-anak, apakah toples kedua ini juga sudah penuh?” tanya Pak Pri.

“Sudah...,” jawab kami kompak

Lalu Pak Pri menggambil toples yang ketiga. Disobeknya kantong plastik yang berisi pasir lalu dituangkan ke dalam toples.

“Anak-anak, apakah toples ketiga ini juga sudah penuh?” tanya Pak Pri.

“Sudah...,” jawab kami kompak

Rasa penasaranku tak tertahan, sehingga aku terdorong untuk bertanya.

“Apa maksud semua itu Pak Pri?”

“Baik, sekarang coba perhatikan dengan cermat toples pertama yang berisi batu ini!” perintah Pak Pri.

“Ya, cuma toples penuh batu,” jawab Yarko santai.

“Yarko, coba kamu cermati lagi apakah di antara batu-batu dalam toples masih ada rongga?” tanya Pak Pri.

“Masih Pak, tapi apa maksudnya?”

“Coba anak-anak lainnya, cermati toples kedua apakah masih ada rongga di antara kerikil?”

“Masih, tapi tidak selebar toples yang berisi batu,” jawan Anis.

“Bagaimana menurut pengamatanmu, Darno untuk toples ketiga yang penuh berisi pasir?”

“Wah, kalau yang ini tidak ada lagi rongganya, Pak” jawab Darno.

“Nah, sekarang mari kita coba masukkan kerikil dan pasir ke dalam toples yang berisi batu,” ajak Pak Pri.

Beberapa anak maju lalu mengambil kerikil dan pasir dari toples di sampingnya kemudian memasukkannya ke dalam toples pertama.

“Apakah masih bisa masuk?” tanya Pak Pri.

“Masih Pak, kerikil mengisi rongga sebesar kerikil sementara pasir memenuhi rongga di sela-sela batu dan kerikil,” jawab anak-anak yang maju.

“Sekarang kita balik, toples yang penuh pasir ini kita isi batu dan kerikil,” perintah Pak Pri.

Ketika anak-anak melakukannya, lalu Joni berteriak, “Tidak bisa Pak, tidak lagi ada ruang,”

“Lalu apa maksudnya itu Pak,” tanya Rasyid yang tampak mulai tertarik dengan kehebohan kelas.

“Nah, ini sebenarnya sebuah analogi. Jelasnya begini, terutama kamu, Rasyid, perhatikan baik-baik,”

Pak Pri menyuruh anak-anak duduk, lalu katanya

“Anak-anak, batu, kerikil, dan pasir merupakan analogi dari hal-hal yang kita hadapi tiap harinya. Batu menggambarkan hal-hal yang besar, kerikil menggambar hal-hal yang sedang, dan pasir menggambarkan hal-hal yang kecil dan remeh, dan toples adalah gambaran pikiran kita.

“Penuh, tetapi banyak batu dan kerikil yang tersisa, bukankah jumlahnya sama dengan toples pertama?”jawabku heran.

“Betul sekali, toples adalah analogi kehidupan. Batu adalah hal-hal yang penting dalam hidup seperti, keluarga, teman, pasangan dan semua hal yang membuat hidup lengkap. Kerikil adalah hal-hal yang membuat hidup nyaman seperti, rumah, mobil, dan lainnya. Sedangkan pasir adalah hal kecil yang tidak terlalu penting. Jika kita mengisi toples dengan pasir terlebih dahulu, seperti toples kedua maka tidak ada ruang lagi untuk batu dan kerikil. Demikian pula, hal-hal kecil yang tidak penting menyebabkan kita tidak memiliki ruang untuk hal-hal besar yang berharga. Dalam hidup kita akan dihadapkan dengan banyak hal yang kecil maupun besar, yang berharga maupun tidak. Bedakan mana yang batu, mana yang kerikil dan mana yang pasir, begitu Mas Rasyid,” kata pak Pri sembari menepuk pundak Rasyid yang mulai ceria meskipun gagal ikut pertandingan gameonline.

                Manfaatkanlah waktumu sebaik-baiknya seperti untuk bersama Ibu dan keluarga lainnya. Jika tidak, kamu akan kehilangan waku berhargamu bersama orang-orang yang berharga. Tinggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak berharga yang bisa membuatmu kehilangan hal-hal yang berharga dalam hidupmu.

 

Oleh : Dini Eka Rakhmayani - 9A/14

Terkait
Pendidikan Bangsa Indonesia
9 Jun 2022
Meskipun pada masa-masa sulit Meskipun ada keterbatasan Aku akan tetap semangat Untuk menuntut ilmu Aku akan tetap semangat Untuk meraih cita-cita Dan aku tetap semangat Untuk giat belajar   Memang…
KOALA DAN BURUNG ELANG
11 Mar 2020
Ada seorang anak bernama Rara. Ia sedang melamun memikirkan pendidikannya di tepi kolam renang. Ayahnya menghampiri dan segera duduk di sampinya. “ Apa yang sedang kamu lakukan? ” tanya Pak…
Seni Grafis dengan Media Ramah Lingkungan
11 Apr 2022
Karya Fransisca Andante A. dan Valensia Imanuella E.P. dari kelas IX B ini sangatlah menarik. Selain dari segi teknik juga media yang digunakan sangatlah unik. Karya tersebut termasuk dalam karya…
SEKOLAH
14 Jun 2023
Karya: Arawinda Khairunnisa Matahari bersinar lagi Itu tandanya aku harus bersiap Menuntut ilmu di sekolah Dibimbing bapak dan ibu guru   Sekolah... Tempatku menuntut ilmu Setiap hari tak kenal lelah…
Kau Melukisku
29 Agu 2019
Ibu.. Di sini kutulis kisah tentangmu Yang tak kenal lelah, yang tak kenal keluh Kau kilau cahaya Bagai lilin nyala dalam relung gelapku Tak terbanding Pengorbananmu tuk menghadirkanku ke bumi ini.. Membuatku…
Tolong Menolong
26 Okt 2022
Pada suatu hari, hiduplah Kerbau di sebuah hutan. Saat pagi hari, Kerbau ke luar untuk mencari makan. Di jalan Kerbau bertemu dengan Monyet. “Hai, Monyet! Kamu mau ke mana?” tanya…
KEKANCAN utawa SAHABATAN
19 Feb 2020
Nalika semana Manda nembe wae mlebu SMP. Mbiyen Manda sekolahe neng sawijining SD Negeri Gondokusuman. Nanging saiki deweke munggah SMP lan ngelanjutke ing SMPN 7 Yogyakarta. Ning SMP Manda duwe…
Bunga Tulip Untukmu
13 Feb 2020
Hai, ini kisahku. Seorang gadis pengidap tumor jantung primer, aku tidak sekuat yang kalian bayangkan. Dan hari ini, aku akan menceritakan gelap dan terang hidupku. "HYUNJINN.... BALIKIN HAPE GUE!!" "Kejar…
RAMADAN 2018 VERSUS RAMADAN MASA COVID
2 Nov 2022
Hai, perkenalkan Aku merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara. Namaku Caesa Athifah Zahra, Aku berumur 13 tahun yang dan dilahirkan pada bulan Juli. Aku dilahirkan di Yogyakarta, kota ini…
PERCAYA DIRI
12 Okt 2022
Pada suatu hari hiduplah seorang anak bernama Aisha, panggil saja dia Ais. Ia adalah anak sulung dari sepasang dokter dan juga kakak dari 3 adiknya. Orang tuanya bernama Pak Cavin…
Media Sosial
Karya Siswa
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com