Sekolah Berbasis Budaya
Love Scenario
Love Scenario
13 Peb 2020

Tes.
Cairan bening itu kembali menetes dari pelupuk mata Erina. Sudah tak bisa dihitung lagi, ini sudah keberapa kalinya ia menangis. Menangis dengan alasan yang sama. Pengkhianatan cinta.

Ia mengusap cairan bening itu dengan kasar, ia benci dengan air mata ini, menunjukkan betapa lemah dan cengeng nya dirinya.

 Bukankah Dio selalu mengatakan "Jadilah wanita yang tegar, kuat, dan penyabar,"

"Erina bodoh! Kenapa lo pakai nangis segala, cengeng. Dio itu gak suka perempuan cengeng! Erina udah jangan nangis, dia juga gak bakal ngasihani lo. Lo udah biasa diginiin!" maki Erina dalam hati.

Erina kembali menatap punggung kokoh milik kekasihnya itu yang berjarak sepuluh meter darinya, yang sedang bermesraan dengan perempuan lain.

Ia memegang dadanya yang terasa terhimpit. Ia memutuskan untuk pergi dari sini, lebih baik tidak melihatnya.

Saat dirinya berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba seseorang mengejutkannya dari belakang dengan menepuk bahunya.

Erina menoleh mendapati wajah Dio yang notabennya sudah menjadi kekasihnya menjelang tiga tahun ini, yang sedang tersenyum manis kepadanya.

"Erina. Kamu habis nangis ya?" Tanya Dio kaget memandangi mata Erina yang sembab dan hidungnya yang memerah.

Erina menggeleng samar lalu menunduk memperhatikan sepatu milik Dio, kekasihnya.

"Jujur Erina. Siapa yang bikin kamu nangis?" Lanjut Dio sambil menangkup wajah cantik milik Erina.

Kamu yang bikin aku nangis, Dio! ---Sahut Erina dalam hati.

Detik berikutnya Dio langsung memeluk tubuh Erina, melupakan bahwasanya mereka sedang berada di area sekolah.

"Jangan nangis lagi ya. Kamu tahu kan aku gak suka perempuan yang cengeng?"

Lagi-lagi Erina hanya bisa mengangguk, meng'iya'kan semua kalimat yang muncul dari mulut kekasihnya ini.

Dio mengurai pelukannya, ia menatap Erina dengan lekat menunggu kekasihnya ini agar berbicara.

Terbukti tak sampai sepuluh detik Erina berkata, "Dio, besok aku mau pergi ke Bali. Kamu inget kan Tante Maya? dia besok nikah, di bali. Makanya aku mau kesana, menghadiri pernikahannya. Boleh kan?"

Dio mengangguk, "iya sayang. Aku juga mau izin sama kamu. Nanti malam aku mau jalan sama Joy, kamu tahu Joy kan? Joy Fhesa,"

Seketika Erina menegang kala Dio, kekasihnya meminta izin kepadanya untuk bermalam minggu bersama perempuan lain. Joy Fhesa, perempuan yang tadi bermesraan dengan Dio.

Pertahanan Erina mulai goyah, namun ia kembali mempertahankan air matanya yang hendak menerobos keluar.

Erina mengangguk dan bertanya, "Kamu sama Joy mau kemana?"

"Mau jalan-jalan. Oh iya aku mau kasih tahu, kalau aku sama Joy resmi jadian sepuluh menit yang lalu," ucap Dio sambil tersenyum manis, seolah bangga dan senang dengan apa yang ia katakan.

Apakah Dio tidak memikirkan perasaannya, disini Dio yang tersenyum seolah Erina tidak apa-apa. Padahal Erina kekasihnya, yang sudah hampir tiga tahun menemani Dio.

Namun apa balasan Erina yang setia kepada Dio, Dio malah mengkhianati cinta tulus Erina. Apakah Dio tidak pernah peka mengapa ia menangis setiap hari. Itu karenanya!

Erina menangis saat dinding pertahananya rubuh, "kamu jahat Dio! Kamu tau gak kenapa aku selalu nangis. Itu karena kamu! Kamu selalu nyakiti aku Dio!"

Dio menatap lekat manik mata Erina, tak percaya dengan apa yang kekasihnya itu katakan. Dio selalu menyayangi Erina, lebih dari dirinya sendiri.

"Gak Erina. Aku gak pernah bermaksud menyakiti kamu. Aku sayang, aku cinta sama kamu!" Tegas Dio, lalu memeluk kembali tubuh Erina yang bergetar.

"Suatu hari kamu akan tahu, apa maksud dari semua ini Erina," ucap Dio sangat lembut serupa bisikan.

Dio melepaskan pelukan dari tubuh Erina, beranjak meninggalkan Erina yang masih menangis di tempatnya.

Dio memasuki bilik kamar mandi Pria, memegangi dadanya yang nyeri.

"Tuhan. Aku mohon jangan sekarang," pinta Dio saat nafasnya mulai tak beraturan.

Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, ia melakukan itu hingga nafasnya mulai teratur.

Dio tersenyum lega saat sakit itu sudah mulai menghilang.

Malam hari tiba...

Dua insan yang sedang bermesraan ditaman, dengan cahaya rembulan yang menyinari mereka ditambah lagi lampu-lampu yang temaram.

Erina memandangi wajah kekasihnya dalam-dalam seolah ia menyiratkan bahwa ia tak kuat lagi dengan luka yang Dio torehkan.

"Udah malam kamu pulang ya," titah Dio kepada Erina saat perempuan disampingnya ini melirik ke arah jam yang melingkar ditangannya.

Erina tersenyum hangat menimpali perkataan Dio.

"Kamu naik taksi online. Aku udah pesenin, maaf aku gak bisa nganter kamu pulang, karena bentar lagi Joy datang. Kan kasihan kalau Joy dateng aku nya gak ada," ucap Dio enteng.

Erina tersenyum getir, merasakan sensasi nyeri di hatinya. Apakah benar kekasihnya ini tidak punya hati? Tapi mengapa ia bisa mencintai Erina?

Erina mengangguk lalu melenggang pergi, ia memutuskan untuk menunggu taksi yang Dio pesankan dari ponselnya. Saat ini dirinya menunggu taksi dibawah pohon dekat lampu taman.

Ia melirik ke arah Dio yang tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya. Lalu kekasihnya itu berbalik arah menatap perempuan dengan badan proposional yang menghampirinya.

Dio menyambut Joy sambil membelai rambut panjangnya. Hati Erina kembali mencelos saat Dio kembali bermesraan dengan Joy di depan Erina.

Dio sedikit menengok ke belakang memastikan Erina masih berada ditempatnya, "maaf Erina. Ini gak bermaksud buat menyakiti kamu, tapi ini yang dinamakam rasa sayang aku ke kamu. Semoga suatu saat kamu tahu, apa maksud semua ini. Ini demi kebaikan kamu Erina," monolog Dio dalam hati.

♢♢♢

2 hari kemudian...

Di Bali...

"Ma. Aku pakai kebaya ini aja ya," pinta Erina kepada Mama-nya untuk dipakai menghadiri pernikahan Mbak Maya.

Mama-nya menoleh memperhatikan Erina, "iya bagus. Pakai saja,"

Erina tersenyum lalu memakai kebaya tersebut di dalam kamar mandi, saat kebaya itu sudah melekat ditubuhnya ia memperhatikan pantulan dirinya lewat cermin. Ia jadi teringat sosok Dio yang pernah mengatakan "Suatu saat nanti. Aku pengen lihat kamu pakai kebaya, duduk bersama dengan ku didepan penghulu dan banyak saksi. Mengucapkan janji suci sehidup semati,"

Ah, laki-laki itu membuat Erina ingin menangis. Sekarang sedang apa Dio? Apakah Dio juga merasakan apa yang Erina rasakan? Yang Erina rasakan sekarang adalah rindu bertubi-tubi untuk Dio, kekasihnya.

Erina menyudahi aksi melamunnya, ia kembali dengan kebaya yang sudah melekat di tubuhnya. Berjalan keluar menuju halaman massion besar milik tantenya ini, yang disulap menjadi altar yang indah. Tempat dimana orang-orang sudah berkumpul untuk menyaksikan kedua insan mengucapkan janji suci kepada pasanganya dan tuhan, berciuman, dan bertukar cincin.

Ia berjalan menghampiri Mama-nya yang sudah berada di bangku putih yang memang disediakan khusus untuk keluarga saja.

Saat Erina menoleh ke kanan, seorang laki-laki dengan wajah tampannya menyapa Erina.

"Hai Erina," sapa Laki-laki itu. Yang kira-kira usianya masih sepantaran dengannya.

Erina tersenyum menanggapinya, laki-laki itu adalah sahabat Erina dari kecil. Siapa lagi kalau bukan sepupunya yang bernama Sagara.

"Hai. Sagara, udah besar aja. Makin ganteng lagi. Hahahah,"

Sagara menyugar rambutnya kebelakang, "kamu bisa aja Erina. Kamu juga tambah cantik,"

"Terimakasih,"

Tak lama acara pengucapan janji suci alias pernikahan itu dimulai, dan sekarang tiba waktunya untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

Erina masih bersama dengan Sagara. Melepas rindu bersama setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Erina sangat kagum dengan Sagara yang sangat tampan diusianya, tapi lebih tampan kekasihnya.

Kekasihnya, sedang apa dia sekarang ya?

Mereka bertukar canda tawa, hingga Erina melupakan rindunya kepada Dio yang sedang berjuang di sana.

♢♢♢

     Erina sangat lelah karena aktivitasnya hari ini. Menghadiri pernikahan Tantenya, Melepas rindu kepada sahabat sekaligus sepupunya, dan malam ini juga jam 00.00 Erina dan keluarga nya pulang menuju ibu kota.

Dua jam perjalanan membuat Erina kantuk, karena diperjalanan Erina tak sempat tidur karena memikirkan bahwa sanya hari ini adalah hari jadi hubunganya dengan Dio yang ketiga tahun.

Erina pulang dari bandara memutuskan untuk membeli kue dan sebuket bunga untuk Dio di toko terdekat. Erina tak kenal waktu, jam masih menujukkan pukul setengah tiga dini hari ia sudah berkeliling untuk mencari toko bunga dan kue yang masih buka.

Ia tersenyum kala tuhan memberinya kesempatan untuk membuat kesan di hari jadi hubunganya ini. Toko kue yang bersebelahan dengan toko bunga masih buka. 24 jam BUKA.

Ia melangkahkan kakinya menuju toko bunga terlebih dahulu, memilih rangkaian bunga untuk diberikan kepada Dio. Hingga pilihannya jatuh kepada Bunga Lily putih. Ia membeli sebuket bunga tersebut. Entah mengapa ia ingin membeli bunga itu untuk kekasihnya.

Erina keluar dari toko bunga itu, dan melanjutkan membeli kue di toko sebelah.

Saat ia memasuki toko kue tersebut, mengapa perasaanya tidak enak, seolah-olah ada orang terdekatnya sedang berjuang melalui sesuatu namun tak tertolong.

Erina mengenyahkan firasat buruknya itu, mungkin ini efek kelelahannya yang sedari kemarin tidak istirahat.

Ia tersenyum puas saat persiapan kejutan untuk Dio sudah terselesaikan tinggal menunggu taksi yang sudah ia pesan lewat aplikasi.

Erina tak sempat mandi atau berdandan, karena setelah ia menyiapkan semua hadiah ini, ia langsung memesan taksi online yang akan mengantarkannya ke rumah kekasihnya, Dio.

Ia lelah, namun tak berarti saat membayangkan betapa bahagianya hari ini, bisa bertemu dengan Dio, dan merayakan hari anniversary ke tiga tahun.

Taksi online yang Erina pesan sudah datang, buru-buru Ia masuk ke dalam mobil tersebut sambil membawa buket bunga dan Kue.

Senyum terulas wajah cantik Erina yang tampak lelah, tak berhenti-hentinya ia mengucapkan nama Dio dalam hatinya.

Tak terasa mobil yang ia tumpangi sudah sampai di depan gerbang rumah Dio.

Erina segera membayar dan turun dari mobil. Melangkah menuju gerbang setinggi 3 meter tersebut, dan memencet bel-nya.

Tidak ada sautan dari dalam, ia menengok jam tangannya. Pantas saja mungkin semua orang masih tertidur nyenyak saat Erina sangat antusias menyiapkan hadiah. Waktu masih menunjukkan pukul 05.00 dini hari.

Erina duduk di depan pagar rumah kekasihnya, mungkin menunggu sebentar, kekasihnya itu akan datang membukakan pintu, dan memeluknya sembari mengucapakan kata-kata yang indah.

Ia menutup matanya sebentar menghilangkan kantuknya, tiba-tiba sebuah lampu sangat terang menyorot wajahnya dibarengi dengan suara mesin mobil yang mendekat ke arahnya.

Erina segera membuka matanya, betapa terkejutnya mobil pajero hitam milik Mama Dio berada di depannya.

Mama Dio turun dari mobil, berjalan menghampiri Erina yang menyunggingkan senyum manisnya.

Erina menjabat tangan Mama Dio--Marissa.

"Tante, Dio nya kemana ya?" Tanya Erina dengan semburat bahagia di wajahnya.

"Sebentar lagi datang," ucap Marissa sambil mengusap sayang rambut Erina yang terurai.

"Tante tau gak? Hari ini ultah jadian aku sama Dio! Ke tiga tahun tan. Aku seneng banget, tadi habis dari bandara aku langsung beli ini," kata Erina sambil menunjukkan kue dan bunga yang ada di tanganya.

Marissa tersenyum pedih melihat kebahagian Erina.

"Dan kata Dio. Di ultah jadian kita yang ke tiga tahun ini, dia mau ngajakin Erina tunangan. Erina gak sabar tante," adu Erina tanpa melepas senyuman bahagianya.

Tiba-tiba saja ambulance datang menghampiri mereka, firasat Erina menjadi tidak enak.

Erina menoleh kepada Marissa yang menitihkan air mata, "tante. Ini ada apa?" Tanya Erina yang kini juga menitihkan air mata.

Setelah mobil itu berhanti didepan mereka berdua,

Peti jenazah yang pertama keluar dari mobil ambulance tersebut. Jantung Erina semakin tak karuan. Ia mencoba menghampiri ambulance tersebut bersama Marissa yang terisak.

Tangan Erina terulur membuka peti berwarna putih gading. Betapa terkejut  dirinya saat melihat background peti yang dihiasi dengan gambar kartun spongebob dan melihat tubuh kekasihnya terbaring rapi dibalut dengan tuxendo gold yang mengkilap, wajah tampannya disulap dengan make-up. Bibir tebal menggodanya diolesi dengan lipstick merah darah, kelopak matanya di hiasi dengan eyeshadow warna hijau neon, dan pipinya diwarna dengan blush on kuning mustard.

Seketika tawanya ingin meledak, namun ia teringat bahwa di dalam peti ini adalah kekasihnya yang sudah tak bernyawa.

Erina menangis kembali saat sempat berhenti, memeluk tubuh kekasihnya walaupun lipstick merah darahnya menempel di baju Erina.

"DIO BANGUN, KAMU MAU KONDANGAN APA MAU MENINGGAL SIH, KOK PAKAIANNYA GAK MODIS BANGET!" teriaknya frustasi.

Diam-diam Marissa merekam aksi Erina menangis bombay karena Dio.

"Kamu gak inget ya, janji kamu dulu?!" tagihnya mencoba berteriak agar kekasihnya ini hidup kembali.

Erina kembali menelusupkan wajahnya di caruk leher kekasihnya.

"Iya aku bangun kok," kata-kata yang membuat Erina merinding bukan main didetik berikutnya lengan kokoh melingkar di bahunya.

Erina memberontak mencoba melepaskan pelukan itu.

Ia melihat wajah tampan kekasihnya walaupun dihiasi make-up amburadul sedang tersenyum dengan mata yang masih terpejam namun, ada yang mengganjal dihatinya.

Saat Erina mendekat memastikan bahwa ini bukan mimpi, ia melihat detail mata kekasihnya.

"SETAN!" teriak Erina saat kelopak mata Dio terbuka, namun hanya warna putih yang terlihat.

Dio dan Marissa terkekeh sambil memegangi perut. Erina jongkok di samping peti tersebut dengan kedua telinga yang ia tutupi dengan telapak tangan.

Dio bangun dari peti, dan keluar dari sana. Mendekati Erina dengan membawa buket besar dan sepasang cincin perak dengan aksen tulisan nama mereka masing-masing.

Dio menepuk pelan pundak Erina, Erina menoleh pelan, ia terkaget saat bola mata kekasihnya kembali normal dengan iris mata berwarna hitam lagi.

Ia menghela nafas lega, lalu Dio menyuruh Erina berdiri didepannya saat Erina sudah berdiri di depannya dengan mati-matian menahan tawa, Dio berlutut didepan Erina sambil menyerahkan buket.

Erina menerima buket tersebut.

"Aku nya udah bangun nih. Jadi lamaran gak?" goda Dio sambil menaik turunkan alisnya.

Erina membuang wajahnya malu, ia emggan mentap Dio yang sedang menghodanya.

Lantas Dio meraih tangan kanan, "Erina Ayudia, maukah kamu menjadi pendaping hidup seorang Emeliand Dio Richolas selamanya?"

Erina menangis haru lalu dirinya mengangguk detik berikutnya mereka sama-sama menyematkan cincin, berpelukan bersama hingga lupa bahwasanya mereka tak sendiri.

"SELAMAT PAGI BUK, PAK. Petinya mau dibawa pulang atau saya bawa kembali ke rumah sakit?" Tanya Suster yang berada didalam ambulance.

Marissa terkesiap lalu memencet tombol merah, tanda video berakhir. Lalu menghampiri suster tersebut.

"Jangan dibawa, ini nanti buat hiasan dikamar mereka saja kalau sudah menikah. Terimakasih kerja samanya, jangan lupa doa restu buat anak saya ya mas, mbak," ujar Marissa.

"Iya Bu, semoga pernikahannya lancar, pranknya sukses bu!" 

 

Oleh : Anita Sabrina Azzahrani 9C / 02/2020

Terkait
Mimpi
27 Agu 2019
     “Gue Zelvin lo?”tanya lelaki itu sambil mengulurkan tangan nya dengan senyum yang manis itu. ”KRING” bunyi jam weker membangunkan gadis yang masih nyenyaknya tertidur itu dia pun bangun sambil menggeliat,…
Senja
10 Mar 2020
Apakah kalian pernah merasakan? Saat kau ingin berteriak namun, tak ada seorang pun yang mau mendengarnya. Jika kau pernah, itulah yang aku rasakan saat ini. Hari yang melelahkan. Hari dengan…
Bunga Tulip Untukmu
13 Peb 2020
Hai, ini kisahku. Seorang gadis pengidap tumor jantung primer, aku tidak sekuat yang kalian bayangkan. Dan hari ini, aku akan menceritakan gelap dan terang hidupku. "HYUNJINN.... BALIKIN HAPE GUE!!" "Kejar…
Bidadari Tribun
18 Sep 2019
Gollll....!! sorak dari seluruh suporter di dalam Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Dum ... dum ... dum ... dum ... dum ... PSIM suara nyanyian para suporter PSIM. Semua bergembira ria…
Senja dilangit Biru
16 Sep 2019
Angin berhembus menerpa wajah gadis yang sedari tadi duduk di tepi sungai itu. Menatap kosong kearah depan. Mengabaikan orang orang yang berlalu Lalang. Mengaibaikan rintikan hujan yang mulai turun membasahi…
ULANG TAHUN KE-55 DENGAN TEMA REINO
6 Peb 2018
Ulang tahun ke-55 dirayakan bersama oleh sekolah pada tanggal 2 September 2017. Tema yang diambil adalah reino (kerajaan). Pengaplikasian tema tampak dari desain panggung yang dirancang oleh OSIS. Nuansa kuning…
Tentang Kamu
11 Sep 2019
Entah sudah berapa kali aku menunggu di sini. Di tempat ini, hari ini, waktu ini, kenangan itu terlukis. Kenangan indah yang melukiskan tentang pertemuan dua insan yang saling menyayangi, hanya…
Batu, Kerikil, Dan Pasir
17 Peb 2020
Malam itu aku ada les. Aku terlambat. Les sudah dimulai saat aku sampai. Aku segera duduk lalu mengeluarkan mapp dan alat tulisku. Pandanganku terarah pada teman lesku, Rasyid namanya. Biasanya…
Lelembut Kali Kontheng
18 Okt 2019
Dina Sebtu kuwi pancen wis daktunggu-tunggu. Sakdurunge, aku wis kangsenan karo Kamto, kanca kenthelku, arep mancing ing kali Kontheng Sing ana ing kidul desaku, yaiku desa Sekararum. Ing kali Kontheng…
Pelangi Di Ujung Senja
28 Agu 2019
Apa kalian pernah merasakan,saat kau ingin berteriak tapi tak ada seorang pun yang mendengar. Jika kau pernah itulah yang kurasakan saat ini.   Hari yang melelahkan dengan segala tekanan, seakan…
Media Sosial
Karya Siswa
Login
Username
Password
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com