Selamat Datang di website resmi SMPN 7 YOGYAKARTA
Misteri Uang Kancil
22 Feb 2023

Pada suatu hari ada empat anak yang sedang berjalan bersama, yaitu Kancil, Kerbau, Harimau, dan Kambing. Mereka berangkat pagi hari untuk bersekolah. Mereka teman sekelas juga teman rumah. Mereka sering melakukan segala aktivitas bersama-sama. Sudah 8 tahun rasanya sejak mereka menjalin hubungan sebagai sahabat.

Orangtua mereka juga sangat dekat. Saat sedang ada yang kesulitan mereka berusaha saling membantu. Saat ini ekonomi keluarga Kerbau sedang menurun dan tidak stabil. Kerbau ingin sekali membantu namun ia tak tahu harus melakukan apa. Terkadang Kerbau menyembunyikan masalahnya di depan sahabatnya.

Kerbau pandai sekali menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Kerbau ingin mecoba berdagang namun uang sakunya tidak cukup, jika Kerbau meminta lagi, Kerbau akan merasa bersalah.

Hingga akhirnya Kerbau memberanikan diri untuk berkata pada ibunya, “Ibu, aku ingin berjualan, apakah boleh?”

“Boleh saja Nak” jawab ibu Kerbau.

“Apakah aku boleh meminta sedikit uang dari ibu untuk memulai berdagang?” kata Kerbau.

            Sembari memberikan uang tambahan, ibu Kerbau berkata, “Jangan dihambur-hamburkan uang ini ya, Nak. Ekonomi kita sedang turun, Ibu harap kamu memanfaatkannya dengan baik!” Kerbau menganggukan kepala pertanda mengerti maksud perkataan ibunya. Kerbau merasa sedih sekali, namun ia tetap harus mencapai tujuannya yaitu membantu ekonomi keluarganya. Kerbau ingin berjualan biskuit.

            Sepulang sekolah, Kerbau memutuskan untuk membeli bahan-bahan untuk membuat biskuit. Kerbau pun membuat kue dengan melihat tutorial. Kerbau mencicipi kue yang sudah dibuat. Kerbau terkejut saat mencicipi kuenya, kuenya sangat enak dalam satu kali percobaan. Dengan hati yang senang, Kerbau segera menuju ke warung terdekat untuk menitipkan dagangannya.

Pagi harinya Kerbau di sekolah dan dihampiri oleh teman-temannya.

Kambing bertanya, “Apakah kau berdagang?” Kerbau menjawab dengan senyum dan anggukan.

Lantas Macan bertanya, “Mengapa kau berdagang? Tidak seperti biasanya. Apakah kau ingin mencoba hal baru?”

“Tidak ada apa-apa sebenarnya, aku hanya ingin mempelajari bagaimana cara berdagang,” jawab Kerbau.

            “Baiklah, kami akan selalu mendukungmu. Jika ada apa-apa, katakanlah saja, kami akan berusaha membantumu!” sambung mereka bertiga bersama-sama.

Kerbau menahan rasa sedihnya, ia masih merasa tidak enak dengan temannya jika menceritakan masalahnya. Kerbau membutuhkan waktu dan menunggu waktu yang tepat. Sepulang sekolah Kerbau membeli bahan-bahan untuk membuat kue lagi. Sekarang hari-hari Kerbau harus seperti itu.

            Setiap Kerbau merasa lelah, ia memutuskan untuk beristirahat sebentar, namun selalu teringat akan tujuannya dan menjadi bersemangat lagi. Kerbau percaya jika Ia berusaha keras akan membuahkan hasil yang Ia inginkan, seperti pepatah “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”. Kerbau pandai mengatur waktu dan juga disiplin. Ibu Kerbau melihat anaknya yang sangat gigih pun terharu. Ibu Kerbau selalu membantu jika ada waktu senggang.

            Sudah seminggu Kerbau berdagang. Penghasilan yang didapat pun sepadan dengan usahanya. Pada jam istirahat, teman-temannya berkata kepada Kerbau jika ingin membantunya. Dengan senang hati Kerbau mengiyakan pertolongan itu. Akhirnya Kerbau membeli lebih banyak bahan untuk membuat kue dari pada biasanya.

            Setelah membeli bahan-bahannya, Kerbau langsung membuat kue-kuenya. Kerbau membagi bahannya menjadi dua. Ia akan membuat kue setelah pulang sekolah dan dini hari sebelum ia berangkat ke sekolah. Esok harinya Kerbau berangkat ke sekolah dan meminta bantuan temannya untuk menjual kue-kuenya. Dalam satu hari itu ternyata kue Kerbau habis terjual satu toples.

            Setiap hari Kerbau terus konsisten belajar, membantu ibunya membereskan rumah, dan menjual kue. Hingga akhirnya Kerbau kelelahan dan mulai kewalahan. Kerbau menjadi kurang tidur dan kefokusan Kerbau memperhatikan pelajaran mulai berkurang. Teman-temannya merasa bahwa Kerbau kurang sehat lama-kelamaan. Lalu Kancil bertanya, “Kerbau, apakah kau baik-baik saja?”

Dengan nada tawa Kerbau menjawab, “Aku tidak apa-apa, memangnya aku kenapa? Apakah badanku lebih kurus?”

Dari jawaban Kerbau, teman-temannya merasa bahwa Kerbau baik-baik saja. Keesokan harinya, Kerbau benar-benar terlihat pucat. Saat ditanya kembali oleh teman-temannya, akhirnya Kerbau menjawab yang sebenarnya. Akhirnya Kerbau memutuskan untuk menjual kue-kuenya di warung saja, namun jika ada temannya yang memesan, Kerbau akan membuatkannya.

Pada jam istirahat, Kerbau ingin menceritakan sesuatu pada temannya tentang alasan mengapa ia ingin berdagang. Walaupun sudah lama temannya bertanya mengenai itu, Kerbau tidak ingin jika diantara tali persahabatannya ada komunikasi yang terputus dan karena hal tersebut, tali persahabatan mereka harus merenggang. Setelah menceritakannya, Kerbau menjadi merasa lega. Teman-teman Kerbau juga merasa iba dan ingin berkontribusi lebih besar lagi. Tak disangka semua masalah bermula dari sini.

Sepulang sekolah teman-teman Kerbau mampir ke rumah Kerbau untuk membantu Kerbau membuat kue. Teman-teman Kerbau ikhlas membantu Kerbau tanpa ingin diberi sesuatu. Setelah selesai membantu Kerbau, teman-temannya kembali ke rumah masing-masing. Keesokan harinya mereka ke sekolah seperti biasanya. Namun, sesampainya di sekolah Kancil menyadari bahwa uang sakunya tidak ada di seragam maupun di tasnya.

Kancil mempunyai ide cerdik untuk menangkap sang pelaku. Kancil memang tidak terpikirkan untuk memberi tahu teman-temannya. Walaupun Kancil kesal, Kancil tetap tenang. Sekarang Kancil hanya makan-makanan yang diberi oleh ibunya. Setelah pulang sekolah Kancil menyusun rencana untuk menjebak sang pelaku.

Saat hari berikutnya sudah tiba, Kancil benar-benar siap dengan rencananya. Di perjalanan, Kancil sengaja menjatuhkan uangnya kembali dan dengan cepat bersembunyi di balik semak-semak untuk mengamati siapakah yang mengambil uangnya. Tanpa disadari Kancil, ternyata yang Ia jatuhkan bukanlah uangnya melainkan dompetnya. Namun, Kancil mengabaikan hal tersebut dan tetap fokus pada tujuannya. Kancil terkejut dan kehilangan kata-kata saat melihat siapa yang mengambil dompetnya dan membawanya pergi. Sesampainya di sekolah, dengan amarah yang sudah membludak Kancil memanggil Kerbau.

Lalu Kancil berkata, “Apa yang kau lakukan?! Kau mencuri dompetku?! Bahkan bukan hanya uangku saja yang kau ambil, tetapi juga semuanya yang berada pada dompetku! Kukira kau sahabat, oh bukan, kukira kau teman yang baik namun apa yang kau lakukan? Apakah kau tidak ada rasa berterima kasih kepadaku yang telah membantumu selama ini?”

Kerbau tergagap, ia hanya bisa bertanya, “Apa yang kau katakana Kancil?”

Seketika itu Kancil meninggalkan Kerbau untuk meredakan amarahnya. Meskipun Kancil kesal, namun Kancil menyadari bahwa ucapannya terlalu kasar pada Kerbau.

Badak yang melihat itu pun tercengang dan merasa sangat bersalah. Badak mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur pada Kancil.

“Kancil, sebenarnya yang waktu itu aku yang mengambil uangmu. Aku tidak tahu uang siapa itu. Aku juga lupa membawa uang sakuku dan karena aku tidak membawa uang sakuku, aku tidak bisa makan. Aku berjanji akan mengembalikan uangmu,“ pinta Badak yang sedikit gemetaran.

Kancil yang mendengar itupun berkata, “Tidak apa-apa, kau tidak perlu repot-repot mengganti uangku. Amarahku sudah reda, aku yang salah karena telah membiarkan egoku yang memimpin. Terima kasih telah jujur kepadaku Badak.” Kancil segera menghampiri Kerbau.

“Maafkan aku Kerbau. Aku telah salah menuduhmu dan menimbulkan kegaduhan. Maafkan aku yang telah membiarkan egoku yang keluar,” ucap Kancil dengan rasa sesal.

“Tidak apa-apa. Aku ingin mengembalikkan dompetmu tadi, karena aku melihat kartu identitasmu. Jadi ingin kukembalikan saat sudah sampai di sekolah saja,” jawab Kerbau. Kancil mengajak Kerbau ke kantin untuk mentraktirnya segelas minuman dan semangkuk bakso, dengan maksud sebagai permintaan maafnya. Mereka mulai tertawa kembali. Akhirnya, Kerbau, Kancil, dan Badak berbaikan dan tetap menjalin tali pertemanan mereka tanpa memandang masalah yang lalu lagi.

Karya: Nariswari Westu Ayomi

Terkait
Kopyah untuk Ayah
21 Feb 2020
Di pinggiran  kota dengan padat penduduk, tinggalah keluarga kecil nan miskin. Keluarga itu terdiri dari ayah dan seorang anak perempuannya. Ayah itu bernama Pak Daud dan putrinya bernama Risa. Pak…
Pentingnya Sebuah Ilmu
4 Agu 2023
Karya: Arkana Khoiru Nada     Walau sekolahku jauh Walau jalannya berliku-liku Semua itu ku tempuh Untuk mendapatkan cahaya ilmu   Aku tak ingin menjadi bodoh Tak bisa berhitung dan…
Cintaku, Pendidikan Indonesia
25 Apr 2022
Cintaku, pendidikan Indonesia… Terima kasih telah mengajarkanku segala hal Dari aku mulai belajar membaca a-i-u-e-o Hingga diriku belajar matematika aljabar   Cintaku, pendidikan Indonesia... Diriku yang membawa bekal pelajaran darimu…
Pengagum Rahasia
2 Sep 2019
Entah mengapa semua terasa berbeda semenjak aku mengenalnya. Tatapannya membuat aku penasaran. Dia yang telah merubah hidupku. Yang awalnya aku hanya seorang gadis pendiam, kini aku menjadi seorang gadis yang…
Rahasia
7 Des 2019
“Tap-tap” Langka kaki dari dua orang anak yanng bernama Imelda dan Adelia memasuki kelas. Kebetulan saat itu kelas masih sepi dan sunyi. Imelda dan Adelia melihat laptop di atas meja…
Pelangi Di Ujung Senja
28 Agu 2019
Apa kalian pernah merasakan,saat kau ingin berteriak tapi tak ada seorang pun yang mendengar. Jika kau pernah itulah yang kurasakan saat ini.   Hari yang melelahkan dengan segala tekanan, seakan…
Aku Dan Kucing Kecilku
8 Mar 2023
Suatu hari, Aku dan Keluarga beliburan ke Desa. Suatu pagi, aku bermain dengan teman teman di Desa. Aku dan teman teman bersepeda Pagi mengelilingi sawah. Udaranya sangat sejuk, jadi aku…
Gurat Biru dalam Ragam Hias (3)
8 Mei 2022
Dalam permukaan piring kayu terlihat 3 objek gubahan hewan bebek yang dibuat menonjol atau dijadikannya sebagai centre point dengan menerapkan kaidah-kaidah vignette (framing). Masih pada nuansa biru yang dominan, tercipta…
PENDIDIKAN
22 Agu 2023
Karya: Aszahra Bunga Yuliasari   Ia merupakan salah satu kebutuhan manusia Ia sangat penting juga untuk masa depan Ia adalah pendidikan Dengan pendidikan kita dapat meraih cita - cita Cita…
Mimpi
27 Agu 2019
     “Gue Zelvin lo?”tanya lelaki itu sambil mengulurkan tangan nya dengan senyum yang manis itu. ”KRING” bunyi jam weker membangunkan gadis yang masih nyenyaknya tertidur itu dia pun bangun sambil menggeliat,…
Media Sosial
Karya Siswa
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com