Selamat Datang di website resmi SMPN 7 YOGYAKARTA
KENDALIKAN PERASAANMU
4 Apr 2023

Lagi-lagi Agnes menghela napas. Dia duduk di meja belajarnya dan melihat meja di sebelahnya yang berisi penuh penghargaan bertuliskan “Bella” sedangkan ia lagi-lagi hanya mendapatkan pin hijau bertuliskan “kamu telah mencoba” yang selalu ia kumpulkan di lacinya. Ya, Bella adalah kakak kandung Agnes. Bella merupakan gadis yang cantik, manis, ceria, dan juga pintar itulah mengapa banyak orang yang menyukainya. Namun, ternyata Agnes sangat membencinya.

Dia iri dengan semua prestasi kakaknya. Walaupun dia juga merupakan anak yang pandai tetapi semua orang termasuk orang tuanya tidak pernah memujinya, mereka selalu memuji Bella. Itu membuat Agnes merasa tidak dipedulikan dan kesepian. Dia selalu menulis rasa bencinya kedalam sebuah buku. Dengan amarah yang membara-bara ia menulis “aku benci Bella” untuk yang kesekian kalinya dalam buku itu.

Setelah menulis, Agnes menutup bukunya tapi ia merasa ada yang aneh dari buku itu. Seperti ada suara sesuatu yang mengetuk bukunya. Agnes pun penasaran lalu mengintip bagian dalam bukunya. Betapa terkejutnya Agnes saat ada sebuah monster kecil berwarna hitam keluar dari isi buku. Lama-lama monster itu bertambah jumlahnya menjadi banyak. Ternyata monster-monster itu terbentuk dari kata-kata kebencian yang ia tulis untuk Bella.

Agnes yang panik pun berusaha menangkap para monster itu. Namun, semua usahanya sia-sia. Monster itu sangat lincah hingga Agnes merasa kelelahan saat mengejar mereka. Monster itu melompat kesana kemari dan membuat kamarnya berantakan. Agnes yang melihat itu pun hanya bisa menepuk jidatnya dan berteriak, “Tolong berhenti!”

Semakin lama, monster itu semakin menjadi-jadi. Sementara itu, Agnes sibuk menangkap semua piala Bella yang berterbangan karena lemparan monster itu. Tetapi mereka terlihat seperti sedang mencari sesuatu. Mulai dari bawah kasur hingga dalam lemari sudah mereka geledah. Hal itu pun membuat Agnes semakin penasaran dan bertanya-tanya apa tujuan para monster ini sebenarnya.

Mendengar suara klakson bus sekolah, Agnes langsung melihat kebawah melalui jendela kamar. Ternyata itu Bella, dia sedang melambaikan tangan ke arah Agnes setelah turun dari bus. Para monster yang mendengar itu pun langsung mencari sumber suara itu keluar kamar sambil membawa buku Agnes. Namun, para monster itu tidak membuat berantakan pada benda-benda di ruangan lainnya tetapi, mereka melempar bahkan memecahkan barang yang hanya terdapat wajah Bella. Semua bingkai foto Bella yang terpajang di dinding berserakan karena ulah para monster itu. Sekarang Agnes mengerti bahwa sebenarnya monter-monter itu mengincar Bella, dan itu membuat Agnes semakin panik karena Bella semakin dekat dengan pintu.

Agnes merobek-robek halaman bukunya berharap para monster itu menghilang. Namun usahanya juga sia-sia. Tiba-tiba saja para monster itu berkumpul dan bersatu menjadi monster raksasa yang besar. Bahkan Agnes sampai terjatuh saking terkejutnya. Raksasa monster itu berubah menjadi seram, badannya dua kali lipat badan Agnes, giginya tajam, dan jari-jarinya sebesar badan Agnes.

Monster itu telah memegang kenop pintu, dan bersiap membukanya, sementara itu  Bella sedang memunguti surat yang berjatuhan karena tertiup angin. Agnes melihat bukunya yang robek, tetapi lembaran-lembaran kertas yang robek itu menyambung dan menjadi kata-kata baru yang baik. Agnes pun langsung mencoba menggabungkan semua robek-robekan kertas menjadi satu, dan menunjukannya ke monster itu. Ternyata itu adalah kelemahannya, ia benci hubungan yang baik. Setelah Agnes menunjukan banyak sekali kata, kini saatnya ia menunjukan kata terakhir yang ia gabungkan yaitu “Aku minta maaf” dan ternyata membuat monster itu seperti meleleh dan lenyap tanpa jejak.

Setelah monter itu lenyap, semua barang-barang yang berserakan dimana-mana kembali pada tempatnya seperti semula. Namun, robekan buku Agnes masih berada di lantai tempat Agnes berdiri. Agnes terdiam dan tak percaya bahwa dia telah menang melawan monster yang terbentuk dari rasa bencinya sendiri. Tak lama kemudian, Bella membuka pintu dengan terheran-heran dengan adiknya yang berdiri seperti patung di tengah-tengah banyaknya robekan kertas.

Agnes yang melihat Bella berada di depan pintu pun langsung berlari memeluk kakaknya itu. Ia menangis dalam pelukan kakaknya, dan itu semakin membuat Bella kebingungan. Agnes berkali-kali meminta maaf pada Bella sambil mengangis. Tapi, tiba-tiba ia teringat dengan kamarnya, dan langsung berlari ke ke kamarnya. Seperti ruangan lainnya, kamarnya seketika rapi seolah-olah tidak ada kejadian apapun. Agnes kembali ke bawah, dan membuang semua robekan-robekan kertas itu bersama bukunya ke truk sampah yang sedang lewat depan rumahnya.

Keesokan harinya, mereka terlihat akrab dan sering tertawa bersama. Pagi ini mereka berangkat sekolah bersama. Seperti biasanya, banyak sekali teman-temannya yang ingin duduk bersama Bella, tetapi Bella menolak dan memilih duduk bersama adiknya, dan itu membuat Agnes semakin bahagia bersama kakaknya. Sejak kejadian itu, Agnes sadar bahwa tidak baik menaruh kebencian kepada orang lain hanya karena iri, sebab monster atau musuh kita sebenarnya berasal dari perasaan kita sendiri. Maka dari itu, kendalikanlah perasaanmu sebaik mungkin.

Karya:

Nama: Rajwa Awalin Wiyannisa

Terkait
RAMADAN 2018 VERSUS RAMADAN MASA COVID
2 Nov 2022
Hai, perkenalkan Aku merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara. Namaku Caesa Athifah Zahra, Aku berumur 13 tahun yang dan dilahirkan pada bulan Juli. Aku dilahirkan di Yogyakarta, kota ini…
Senja dilangit Biru
16 Sep 2019
Angin berhembus menerpa wajah gadis yang sedari tadi duduk di tepi sungai itu. Menatap kosong kearah depan. Mengabaikan orang orang yang berlalu Lalang. Mengaibaikan rintikan hujan yang mulai turun membasahi…
Keterbatasan Teknologi
4 Jan 2023
Suasana pagi yang indah dengan semilir angin sepoi-sepoi yang menyejukkan hati. Dari ufuk timur,  surya kembali terbit dengan senyuman yang melekat di mulutnya. Hari ini adalah hari dimana aku akan…
Bunda
3 Okt 2019
Pada pagi hari             “Sasa, ini sarapannya udah siap” panggil bunda. “iya Bun,” jawab Sasa. ia segera turun dengan menggunakan seragam abu-abu putih dan membawa tasnya. “Bun, ayah mana?” tanya…
Kau Melukisku
29 Agu 2019
Ibu.. Di sini kutulis kisah tentangmu Yang tak kenal lelah, yang tak kenal keluh Kau kilau cahaya Bagai lilin nyala dalam relung gelapku Tak terbanding Pengorbananmu tuk menghadirkanku ke bumi ini.. Membuatku…
Pengagum Rahasia
2 Sep 2019
Entah mengapa semua terasa berbeda semenjak aku mengenalnya. Tatapannya membuat aku penasaran. Dia yang telah merubah hidupku. Yang awalnya aku hanya seorang gadis pendiam, kini aku menjadi seorang gadis yang…
Sebuah Bolpoin
4 Apr 2023
Di sebuah sekolah menengah pertama di desa, ada anak yatim piatu yang tinggal bersama neneknya. Anak itu biasa dipanggil dengan nama Rei, ia selalu menyendiri. Anak itu selalu memasang ekspresi…
Mengasuh Anak-Anak MTC
23 Nov 2022
Iruma Jyuto, 29 tahun dan bekerja sebagai polisi. Entah sejak kapan, pria dengan surai coklat yang disisir ke samping itu mendapat pekerjaan sampingan baby sitter. Jyuto masih single meski umurnya…
Guruku
4 Jul 2023
Karya: Ardian Hasani Rahman   Guru, kau adalah pahlawanku, pahlawan tanpa tanda jasa Guru, kau sangat tulus dan sabar dalam mendidikku Terkadang, diriku selalu membuatmu kesal, walaupun diriku sering membuatmu…
Perjalanan Kesuksesan
9 Jun 2022
Hari sudah sore dan aku tak membawa kabar bahagia. Aku pulang ke rumah dengan kabar bahwa aku belum dapat pekerjaan. Hai, aku Adinda Veronika si pengangguran. Sebenarnya aku belum lulus…
Media Sosial
Karya Siswa
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com