Tentang Kamu
Tentang Kamu
11 Sep 2019

Entah sudah berapa kali aku menunggu di sini. Di tempat ini, hari ini, waktu ini, kenangan itu terlukis. Kenangan indah yang melukiskan tentang pertemuan dua insan yang saling menyayangi, hanya mampu dalam sebatas kata ‘sahabat’. Sudah bertahun-tahun aku menunggunya, setiap kali rasa itu muncul, aku selalu datang ke sebuah tempat. Tempat itu adalah Taman Bougenville, tempat yang mengingatkanku tentang sosoknya, tempat yang berhasil mengobati rasa itu dalam hatiku.

“Nath, kamu tau gak itu apa?” tanyaku lugu pada Nathan, sahabatku, sambil menunjuk   ke salah satu bintang bersinar yang ada di langit cerah malam itu.

“Tau dong Han, itu bintang kan,” jawab Nathan sambil melihat ke arah bintang yang kutunjuk.

“Bener, pinter kamu Nath. Aku pengin deh jadi bintang di atas sana!” kataku pada Nathan yang kala itu usiaku sembilan tahun. Kami hanya selisih dua tahun.

“Jangan Han!” sahut Nathan tiba-tiba.

“Emang kenapa?” tanyaku heran, aku menoleh ke arah Nathan.

“Kata mamaku, kalo jadi bintang itu artinya dia udah meninggal, aku ga mau kamu ninggalin aku” jawab Nathan balas menoleh ke arahku.

“Hahaha... kamu nih Nath,” aku menyenderkan kepalaku di atas bahu Nathan.

Derik serangga mengisi keheningan malam itu.

“Jihan, kamu mau gak janji sama aku?” tanya Nathan menunduk.

“Janji apa?” tanyaku balik pada Nathan

“Ya janji, kalo kita akan selamanya jadi sahabat dan gak akan pernah pergi satu sama lain,” jawab Nathan polos namun penuh ketulusan.

“Oke,, aku janji! Aku, Jihan Kumala, gak akan pergi dari Nathaniel Javier! Tapi Nath, kamu juga harus janji sama aku” kataku sambil mengacungkan jari kelingking ke hadapan Nathan.

“Oke, aku, Nathaniel Javier,  janji gak akan pergi dari Jihan Kumala!” sahut Nathan mantap, sambil menautkan jari kelingkingnya ke kelingkingku.

Aku tersenyum setiap kali mengingatnya. Dengan polosnya Nathan berkata seperti itu padaku. Itu salah satu dari berjuta-juta kenangan yang selalu ada di dalam hatiku. Aku rindu saat itu. Aku rindu dengan sifat Nathan yang jail namun terdapat kehangatan di hatinya. Aku rindu sikap manis Nathan. Aku rindu semua itu.

 

“Duuh buku catatan IPA ku kemana?” tanyaku panik pada diri sendirii. Nathan yang melihatku kebingungan akhirnya berbicara.

“Buku IPA-mu yang warna ungu ada gambar kucingnya Han?” kata Nathan

“Iya, Duuh ke mana bukuku, padahal kan habis ini pelajaran IPA, bisa-bisa aku dihukum sama pak Edi.” jawabku menggebu-gebu.

“Kamu gak bawa kali!”

“Enggak Nath, jelas-jelas udah aku masukin ke dalam tas tadi malem,” kataku yang saat itu kami duduk di bangku kelas X SMA.

“Hmmphhf” kudengar suara Nathan menahan tawanya. Aku curiga.

“Nathan, jujur sama aku, kamu kan yang umpetin buku IPA-ku” tanyaku selidik

“Lah, kok jadi aku, aku gak tau apa-apa,” Nathan membela diri, sambil menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf ‘V’

“Ngaku gak, kalo gak aku ngambek!“ kataku merengek

“Mana ada orang ngambek bilang-bilang,” sahut Nathan

“Tau ah Nath,” kataku lalu pergi begitu saja menyusul teman-teman ke ruang LAB IPA.

Nathan mematung. Ya, memang dia yang menyembunyikan buku IPA-ku, tapi dia hanya bercanda, dia tak bermaksud membuatku marah. Tanpa ba bi bu Nathan langsung mengejarku.

“Han Jihan! Tunggu!” teriak Nathan setengah berlari. Aku semakin mempercepat lariku.

“Jihan tunggu! Dengerin aku dulu!” teriak Nathan mempercepat larinya. Aku menyerah. Aku berhenti di tempat.

“Hosh, hosh,, nah gitu dong,” kata Nathan sambil mengatur nafasnya.

“Apa?” tanyaku ketus

“Iya, aku yang nyembunyiin bukumu. Aku cuma bercanda Han,” kata Nathan sambil menyodorkan buku IPA-ku.

“Maaf Han,, jangan marah lagi ya,” Nathan menatapku hangat. Aku tak tega melihatnya, tapi...

“Iya, aku gak marah lagi,” jawabku sambil tersenyum.

“Nah gitu dong... itu baru Jihan Kumala,” kata Nathan, tangan kanannya terangkat mengacak lembut rambutku.

Lagi- lagi aku teringat tentang Nathan, sifatnya yang begitu kurindukan. Hingga suatu hari sesuatu telah terjadi yang membuat Nathan mengingkari janjinya. Saat itu kami sedang berada di Taman Bougenville..

“Jihan, aku mau ngomong” kata Nathan tak bersemangat

“Ngomong apa?” tanyaku heran, tak biasanya Nathan lesu seperti ini.

“Maaf Han, aku minta maaf... aku gak bisa ada di samping kamu lagi, aku harus pergi,, terima kasih kamu udah nemenin aku selama ini Kamu adalah sahabatku tuk selamanya Han,” Nathan menatapku, aku tau dia tulus mengatakannya, tapi aku tak mau berpisah dengannya.

“Tapi kenapa Nath, kenapa?” aku menunduk lemas, air yang sudah kutahan sejak tadi keluar dari sudut mataku.

“Maaf Han, aku gak bisa jelasin,” Nathan menghapus air mataku.

“Tapi aku gak mau pisah dari kamu Nath,” kataku

“Aku juga Han, tapi keadaan mengharuskan kita pisah. Aku mohon sama kamu jangan lupain semua tentang kita, dan jangan nangis lagi ya!” Nathan tersenyum hangat, tangan kanannya terangkat mengacak lembut rambutku.

“Aku gak akan lupain kamu Nath. Gak akan.” Batinku.

Aku tersenyum membalas senyumannya. Nathan pun berdiri dan beranjak pergi. Aku terus melihat ke arahnya, punggungnya lama-kelamaan hilang seiring dia pergi menjauh.

“Itu pertemuan terakhirku dengan Nathan,” batinku setiap kali aku mengingatnya. Aku menarik nafas dan menghembuskannya. Itu salah satu cara agar aku tak menangis.

“Ini sudah pukul lima sore, lebih baik aku pulang saja, Nathan juga tidak akan datang.” gumamku.

Malamnya, aku tak bisa tidur, kuputuskan untuk mengambil kotak hitam yang selama ini kusimpan. Aku mengambil isinya,kalung yang diberikan Nathan waktu itu.

Sekejap, sekelebat memori tentangnya pun muncul di benakku. Lagi-lagi aku merindukannya, aku lalu memasang kalung itu di leherku. “Kuharap aku bisa bertemu denganmu Nath” suaraku lirih penuh harap.

Hari ini hari Minggu, aku mau pergi ke perpustakaan kota untuk meminjam buku yang sedang famous akhir-akhir ini. Aku bergegas pergi..

“Buku itu di mana sih, kata penjaganya buku itu ada di rak ini tapi di bagian mana?” gerutuku.

Sepuluh menit aku mencari tapi tak kunjung kutemukan. Saat aku ingin mencari ke rak yang lain tiba-tiba...

“Permisi, mbaknya cari buku ini yaa?”  Dheg! Jantungku terasa berhenti. Aku seperti mengenal suara itu, saat aku membalikan badan, aku terkejut bukan main. Ya, aku mengenal suara itu, itu adalah suara Nathaniel Javier sosok yang selama ini kurindukan!

“Nath...Nathan?” tanyaku terbata-bata

“Jihan?” tanyanya tak kalah kaget.

Kami pun memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang menjadi saksi akan kisah kami.

Canggung. Itu adalah atmosfer yang menyelimuti kami berdua.

“Hai.. udah lama gak ketemu ya!” sapa Nathan yang memecah kecanggungan.

“Hai juga,,, iya lama banget malah!” kataku kikuk. Aku menatap Nathan. Mata itu. Mata yang setiap kali orang melihatnya ia akan menemukan kehangatan di sana.

‘Aku gak nyangka kamu gak lupain aku,” Nathan melihat ke arah kalung yang sedang kupakai.

“Ya enggak lah, mana mungkin aku lupain kamu,” kataku sambil tersenyum. Kami pun mengisi hari itu dengan membahas semua kenangan yang tercipta antara aku dan Nathan.

“Nath, aku mau tanya..”

“Tanya apa?”

“Kamu inget waktu kita pisah dulu? Sebenernya kamu pergi dari aku selama ini karena apa?” tanyaku. Hening. Tak ada jawaban dari Nathan.

“Oke, mungkin ini bukan waktuku untuk tau.” batinku.

“Ehem,” Nathan berdehem. “Waktu itu aku pergi dari kamu karena satu hal Han” kalimatnya menggantung. “Karena waktu itu aku sakit,” jawaban Nathan yang membuatku terkejut.

“Sakit? Kamu sakit apa? Kenapa gak cerita sama aku?”

“Aku sakit liver Han. Alasan kenapa aku gak cerita ke kamu itu karena... karena aku takut kamu bakal jauh dari aku Han,” jawaban Nathan yang membuatku tak berdaya.

“Nathan, dengerin aku, aku sama kamu udah sahabatan dari kelas 1 SD, aku tau tentang kamu, jadi aku gak bakal ngejauh atau pergi dari kamu,” kataku menyakinkan Nathan.

Nathan tersenyum, dua lekungan itu muncul di pipi Nathan. aku suka saat dia tersenyum, seolah hanya dengan melihat senyumnya aku merasa tenang.

“Kamu gak berubah ya Han, kamu tetep Jihan yang ku kenal. Kamu... kamu juga tambah cantik Han,”

Aku tersipu malu mendengar Nathan mengatakannya. Aku bingung mau bicara apa, Nathan malah melihatku intens.

“Kamu kok ngeliatin aku gitu banget sih Nath,” aku memanyunkan bibirku.

“Ya emang ngeliatin sahabat sendiri gak boleh?” kata Nathan berkilah

Aku mengalihkan pandangan ke segala arah. Nathan malah tertawa renyah.

“Tau gak sih Han, aku kangen banget sama kamu,” katak Nathan

Nathan menatapku. ‘

“Iya, aku juga Nath, banget,” batinku.

“Aku pengin kita kayak dulu lagi Han, aku mau memperbaiki semuanya, aku gak akan ninggalin kamu lagi,” Nathan bediri lalu menarik tanganku agar aku ikut berdiri.

“Aku gak akan pergi ninggalin kamu lagi Han,. aku janji!.” kata Nathan tulus.

Aku tersenyum padanya. Perlahan Nathan menautkan jarinya di sela-sela jariku. Aku bisa merasakan kehangatan mengalir dari tangan Nathan. Kami berdua berbalik pergi, meninggalkan tempat yang menjadi saksi akan kisah kami berdua.

 

===ooOoo===

Pradnya Nirmala 9C/29/2019

Terkait
Love Scenario
13 Peb 2020
Tes. Cairan bening itu kembali menetes dari pelupuk mata Erina. Sudah tak bisa dihitung lagi, ini sudah keberapa kalinya ia menangis. Menangis dengan alasan yang sama. Pengkhianatan cinta. Ia mengusap…
Senja dilangit Biru
16 Sep 2019
Angin berhembus menerpa wajah gadis yang sedari tadi duduk di tepi sungai itu. Menatap kosong kearah depan. Mengabaikan orang orang yang berlalu Lalang. Mengaibaikan rintikan hujan yang mulai turun membasahi…
Bunda
3 Okt 2019
Pada pagi hari             “Sasa, ini sarapannya udah siap” panggil bunda. “iya Bun,” jawab Sasa. ia segera turun dengan menggunakan seragam abu-abu putih dan membawa tasnya. “Bun, ayah mana?” tanya…
Pengagum Rahasia
2 Sep 2019
Entah mengapa semua terasa berbeda semenjak aku mengenalnya. Tatapannya membuat aku penasaran. Dia yang telah merubah hidupku. Yang awalnya aku hanya seorang gadis pendiam, kini aku menjadi seorang gadis yang…
Wavensy
13 Peb 2020
Kelas masih sepi hanya hujan yang menemaniku. Sembari menunggu teman lain dating, aku rebahkan kepalaku di atas meja dengan earphone di telingaku.  Ryan~…  Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Aku kembali…
Pengumuman Cap Tiga Jari Ijazah Siswa Kelas 9 Tahun Pelajaran 2015/2016
17 Jun 2016
Mohon siswa kelas 9 hadir untuk cap tiga jari ijazah pada hari Senin, 20 Juni 2016 pukul 11.00 WIB. Menemui wali kelas masing-masing kelas. Terimakasih.
Kopyah untuk Ayah
21 Peb 2020
Di pinggiran  kota dengan padat penduduk, tinggalah keluarga kecil nan miskin. Keluarga itu terdiri dari ayah dan seorang anak perempuannya. Ayah itu bernama Pak Daud dan putrinya bernama Risa. Pak…
PENGUMUMAN BERLANJUT PERPISAHAN
13 Jun 2016
Sabtu(11/06) diselenggarakan acara perpisahan dan pengumuman hasil kelulusan. Acara dimulai pukul 08.00 WIB di halaman SMP Negeri 7 Yogyakarta. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang dipimpin oleh…
Senja
10 Mar 2020
Apakah kalian pernah merasakan? Saat kau ingin berteriak namun, tak ada seorang pun yang mau mendengarnya. Jika kau pernah, itulah yang aku rasakan saat ini. Hari yang melelahkan. Hari dengan…
Mimpi
27 Agu 2019
     “Gue Zelvin lo?”tanya lelaki itu sambil mengulurkan tangan nya dengan senyum yang manis itu. ”KRING” bunyi jam weker membangunkan gadis yang masih nyenyaknya tertidur itu dia pun bangun sambil menggeliat,…
Berita Siswa
Login
Username
Password
Polling
Menurut Anda, bagaimana konten website ini?
Hasil Polling
Menurut Anda, bagaimana konten website ini?
Kurang
221
Cukup
81
Baik
186
Sangat Baik
465
Hubungi kami
Nama
Email
Pesan
SMPN 7 Yogyakarta
Jalan Wiratama 38, Daerah Istimewa Yogyakarta. 55752
Telepon: (0274) 561374
Faksimili: (0274) 561374
Email: smp7yk@gmail.com